Feeds:
Posts
Comments

JAKARTA. Teramat mudah mencari masakan instan semacam fast food di kota besar seperti Jakarta. Tak hanya berada di pusat perbelanjaan saja, restoran cepat saji ini berjibun di tiap sudut kota.
 
Nah, apabila berharap mengudap masakan yang sedikit berbeda, cobalah  mencicipi menu dengan konsep masakan organik. Salah satunya adalah Warung Daun milik  Hariyanto Prayitno.

Hari, panggilan akrab Hariyanto Prayitno mulai membuka restoran untuk pertama kalinya pada tahun 2003. Awalnya, masakan yang disajikan khusus masakan sunda saja. Misalnya gurame bakar dan  sayur asem sunda, plus sambal lalapan.

Bapak tiga anak ini mulai mengubah racikan masakan yang disajikan menjadi olahan organik. Sejak 2005, semua olahan masakan ini menanggalkan beragam bahan yang dianggap tidak alami semacam zat pengawet atau MSC.

Menu Sunda Masih andalan

Banyaknya persaingan warung sunda di Jakarta ini membuat hari mulai memutar otak. Tak hanya sajian masakan sunda menjadi menu utama, makanan khas daerah lain seperti Gorontalo, Samarinda, dan Madura. “Kami beralih menyediakan  masakan indonesia,” terang pria kelahiran Surabaya ini.

Seiring dengan waktu, Hari sebulan lalu membuka cabang warung Daun ketiga. Lokasinya di daerah elit ibu kota ini, Jl. Cikini Raya No. 26 Menteng. Tepat di depan pintu masuk lokasi Taman Ismail Marzuki (TIM).

Warung ini cukup lebar,  berdiri atas lahan seluas 100 m2. Sekitar 20 meja disediakan dengan jumlah kursi berkisar antara empat hingga enam kursi untuk satu meja makan. Warung Daun ini  juga menyediakan meja di luar ruangan. Totalnya  mampu memuat 100 orang.

Menu yang disajikan Warung daun ini cukup beragam. Hidangan pembuka seperti lumpia ayam rebung, tempe & tahun goreng dan cumi goreng tepung. Sedangkan untuk hidangan hidangan utama dapat dipilih berdasarkan lauk pauk yang berasal dari ikan, daging dan ayam. Misalnya saja  ikan gurame goreng  atau bakar, udang gala, cumi untuk lauk yang berasal dari ikan.

Sedangkan sate maranggi, empang daging, dan oseng daging cabe hijau mewakili lauk  dari daging.   Untuk olahan lauk dari ayam bisa dilakukan dengan dengam bakar dan goreng, plus sate ayam.

Sesuau konsepnya yang mengandaklan organik, Warung Daun ini juga menyediakan beragam sayuran. Sebut saja tumis genjer, kangkung polos dan toge ikan asin.

Sedangkan untuk menumin, Warung daun ini tak memiliki menu andalan. Beragam minuman seperti es cendol, teh poci, es tape ketan dan es kelapa muda jeruk medan.

Dari menu makanan  tersebut, Warung milik Hari ini mengandalkan racikan Gurema Saus Mangga dan nasi liwet sunda. Tak luput sambel ngebul menjadi satu paket. “Masakan ini banyak dicari,” kata Hari.

Rasa olahan ini seperti lazimnya masakan Gurame saus. Bedanya,  Gureme olahan milik Hari ini ditaburi irisan kecil-kecil buah Mangga yang berasal dari daerah Indramayu. Rasanya sekidit rame dengan aroma buah mangga. Khusus sambal  beralaskan cobek kecil, aroma terasi terasa menyengat disertai kebulan asap pertanda baru saja dianggakat dari tungku perapian.

Untuk mencicipi masakan di Warung Daun ini, harga yang dipatok bervariatif.  Berkisar Rp 20 ribu    untuk hidangan pembuka dan  Rp 65 ribu untuk makan besar alias menu utama

Nekat Masuk Wilayah Menteng

Hobi makan kadang bisa membuat peruntungan hidup. Begitu juga dengan perjalanan hidup Hariyanto Prayitno Pemilik Perusahaan PT Kriya Mandiri Rasa  dengan  restoran bernama Warung Daun. 

Melepas status sebagai karyawan di Pabrik Pupuk Kaltim pada tahun 1999, hari banting  setir membuka  Warung Daun pada tahun 2003. “Sejak muda, makan adalah salah satu hobi saya,” kata    Hariyanto
   
Awalnya, warung ini pertama kali berdiri   di Jl. Wolter Mongonsidi, Kebayoran dan  selanjutnya  berlokasi warung kedua di Jl Pakubuwono. Setelah merasa cukup punya modal nama, Hari, begitu panggilan akbab  Hariyanto Prayitno membuka cabang di Menteng, sebulan yang lalu. 

Saat menentukan Menteng menjadi lokasi selanjutnya. Bagi bapak tiga anak ini nekat investasi besar-besaran untuk restoran lebih dari Rp 2,5 milyar hanya untuk biasa sewa selama lima tahun. “Modalnya   nekat saja, belum tentu bisa balik modal ,” katanya.

Kendati nekat, Hari sudah memperhitungkan secara matang siapa saja yang menjadi target pasar restoran yang baru dibukanya sebulan Selain, kalangan karyawan perusahaan yang ada disekitar Menteng, Ia juga membidik kalangan pekerja pemerintahan. “Lokasi usaha menjadi pertimbangan utama untuk berbisnis. Keduanya   memiliki hubungan erat prospek dan keberhasilan  bisnis,” terang Hari bak filsuf.

Memburu sate Tirus ke Tegal

TEGAL. Kurang afdhol mengudap kuliner tusukan sate daging kambing apabila tak menyebut Kota Tegal. Sebab, aroma bakaran dagingnya memang menjadi menu andalan kota pesisir Pantai Utara Jawa ini.

Kota besar macam Jakarta tentu saja menyediakan olahan sate asal Tegal. Namun, soal rasa tentu berbeda apabila secara khusus memburu lezatnya bakaran sate kambing di kota Bahari ini.

Mencari warung olahan daging kambing di Tegal sangatlah mudah. Hampir semua warung menyediakannya, jumlahnya pun mencapai puluhan.

Pusat menu ini di daerah Debong Lor, Tegal, ini nama asli dari kelurahan. Namun daerah ini lebhi kesohor dengan sebutan Tirus. Tirus ini sendiri awalnya adalah nama pengusaha Belanda yang menguasai komplek seluas 30 ha. (Baca ; Box)

Lokasi kompleks Tirus hanya berjarak 4 km dari pusat kota Tegal. Puluhan penjual sate bermukim di daerah ini, dan letaknya satu sama yang lain hanya selemparan batu.

Salah satu warung sate yang kesohor adalah milik Warung Makan Sate Tirus Sakya. Sakya sendiri adalah pemilik warung tersebut dan kini berganti nama menjadi Yahya setelah kepulangannya dalam Ibadah Haji tahun 1997. Warung ini terletak di Jl. Kapten Soedibyo No. 5 Tegal.

Balibu (Bawah Lima Bulan)

Pria yang kini berusia 75 tahun adalah sebagai pelopor penjual sate di Komplek Tirus. Awalnya, Sakya tak berniat membuka warung sate kambing tapi warung tegal (Warteg) pada tahun 1980. “Sate kambing hanya sampingan,’ kata Shobirin, anak ke enam H. Yahya, yang kini mengelola warung pertama yang dirintis sang bapak.

Tak disangka, racikan sate kambing malah laku keras. Hal ini membuat H. Yahya memutuskan hanya menyediakan masakan daging kambing pada tahun 1985. Sop, gulai dan asem-asem adalah menu utama.

Kemashuran warung sate ini kemudian akhirnya membuat pria yang kini berumur 75 tahun mewariskan resep kepada delapan orang anaknya. Semuanya berjualan sate kambing Dan tercatat memilki sembilan warung, termasuk milik sang H Yahya.

Warung milik H. Yahya ini terbilang sederhana. Tercatat hanya ada tujuh kursi panjang yang mampu menampung pengunjung sebanyak 50 orang. Luas bangunan paling banter hanya 45 m2, sedangkan kondisi bangunan cukup tua dan belum ada renovasi sejak berdiri tahun 1980. ” Kami ingin mempertahankan ciri khas ini,” kata Shobirin.

Jam buka warung ini dari pukul 8 pagi hingga 10 malam. Guna memenuhi permintaan, setiap hari tak kurang dari tiga hingga empat ekor kambing yang diolah menjadi sekitar 600 hingga 800 tusuk sate.

Shobirin mengatakan kambing masih muda yang menjadi santapan para penyuka daging kambing. Harga per ekor pun di patok maksimal Rp 300 ribu per ekor. “Maksimal berumur lima bulan atau Bawah lima bulan (Balibu),” katanya.

Soal rasa, tentu saja berbeda. Daging kambing muda sangat gurih, sedikit manis dan tak kenyal alias lembut di makan. Selain itu, ciri khas sate ini dibakar setengah matang.
Satu porsi sate kambing yang berisi 10 tusuk, plus bumbu kecap manis yang dihidangkan dengan bawang merah, tomat dan cabe hijau. Harganya cukup murah Rp 13 ribu, sedangkan menu lainnya seperti gulai dan sop seharga Rp 8 ribu

Menyantap sate di Tegal tak akan lengkap juga tak menyeruput teh poci. Minuman ni disajikan dengan poci yang terbuat dari tanah merah dan untuk pemanis adalah gula batu. Apabila keduanya disantap hangat-hangat kuku, klop.

Tirus : Komplek Warisan Hindia Belanda

Ketenaran warung sate Tirus sudah menjadi rahasia umum. Padahal, nama kelurahan daerah ini adalah Debong Lor, sedangkan Tirus sendiri nama orang.

Muhammad Syari’i, mantan persiunan Brimob yang berpangkat terakhir Kapten ini menuturkan awalnya lokasi ini dimiliki oleh Van Tirus, pengusaha kaya yang berasal Belanda ini memilki lokasi ini sejak tahun 1887 hingga 1913. “Van Tirus memiki hak guna usaha tanah lebih dari 30 Ha,” kata pria berusia 71 tahun ini.

Awalnya, Van Tirus mengunakan tanah ini untuk lokasi perkebunan seperti Jagung dan Salak, tapi tak dijinkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memperpanjang kontrak pada tahun 1913. Tanah ini selanjutnya digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sendiri hingga kemerdekaan RI tahun 1945.

Pemerintah RI mulai menfungsikan tanah tersebut untuk perumahan Brimob pada tahun 1964. Komplek ini diresmikan oleh Suwarno, Komandan Resimen 3 Brimo Jawa Tengah.

Kini bekas rumah Van Tirus sudah berubah fungsi. Dengan sedikit perombangkan tak menghilangkan keaslian rumah ini, oleh masyarakat setempat digunakan sebagai Masjid dengan nama Nurul Iman. “Mulai berfungsi pada tahun 1993,” kata bapak sepuluh anak yang pensiun sejak tahun 1990 ini.

JAKARTA. Mencari masakan yang berasal dari Betawi amat mudah di jumpai di Jakarta ini. Maklum,  Betawi ini sendiri merupakan asal muasal ibu kota ini.

Tapi, tak banyak restoran yang menyediakan racikan masakan yang mengawinkan dua ramuan masakan sekaligus. Misalnya saja masakan Betawi dengan masakan lainnya seperti asal negeri China. Bila anda berharap untuk mencicipi masakan yang mengawinkan ini, cobalah datang ke Shanghai Blue 1920.

Restoran ini terletak di Jl. Kebun Sirih Raya no 77-79, Jakarta pusat.  Tak jauh dari jalan protokol,  MH Tamrin.

Suasana Shanghai Blue 1920 cukup unik. Nuasa china yang balutan warna merah dari  puluhan lampu yang menyerupai lampion yang mengantung serta pose lukisan orang china terpampang di sana-sini. “Kita memang mempertahankan ciri khas china dengan budaya Betawi,” kata Meggi Windari, Marketing  Shanghai Blue 1920.

Jam buka restoran ini dari jam 11 siang hingga 11 malam. Restoran mampu menampung sekitar 70 orang pengunjung. Sebagian besar berisi meja yang  memuat empat orang, hanya satu meja panjang yang mampu menampung 16 orang.

Salah satu sudut ruangan ini  terdapat panggung kecil untuk bermain musik. Untuk memikat pelanggan, musik khusus beraliran jazz akan mengalun pada hari Rabu dan Jumat malam.
  
Masakan restoran ini cukup beragam misalnya saja untuk hidangan pembuka (appetizers) seperti lumpia udang kaca saus tauco, siomay 1920, kue tie tiga macan dan kerang pangang bawang putih.

Untuk main course alias menu utama sebut saja sosis tahu kepiting, bebek goreng sanghai, buntut resep sanghai dan daging  masak kacang hitam, udang besar mabok dan nasi uduk bebek dan rijstaffel bandar soenda kelapa dan nasi semur cirah betawi  

Dan beberapa minuman yang disediakan adalah es sanghai blue 1920, es surga ketujuh, es campur sirsat, es kacang hijaum dan es kepala jeruk.

Meski berupaya memadukan masakan China dan Betawi,  masakan dari babi tak akan dijumpai di Shanghai Blue 1920. Sebab, resep masakan yang ini berasal dari china peranakan yang sudah bermukim lama di daerah Betawi ini. 

Dari menu yang ada, rijstaffel bandar soenda kelapa  merupakan masakan andalan rumah makan milik Anhar Setiadibrata. Menu ini cukup beragam yaitu terdiri dari ayam goreng, udang goreng, pepes ikan patin, gorengan jagung manis, jengkol, emping dan sayur asem. Tak luput ada serundeng yang terbuat dari parutan kelapa goreng. Rasanya sedikit pedas dan manis.

Rijstaffel disajikan pada piring besar yang menyerupai loyang.  Dan ada satu lembar daun jati sebagai tatakan piring. “Rasanya daun jati ini penyedap,” kata Jounatta, supervisor  Shanghai Blue 1920.

Sedangkan andalan untuk minuman di  restoran yang berdiri dari 31 Agustus 2006 ini   Es Sanghai Blue 1920. Sekilis menyerupai minuman es campur dengan serutan es yang mengunung.

Es Sanghai Blue 1920 ini terdiri dari nanas, cingcau hitam, kacang merah, anggur dan tape ketan. Yang cukup unik dari minuman ini adalah warnanya biru laut. “Warna ini didapatkan  gula yang terbuat dari blue monin,”papar  Jounatta.

Harga yang dipatok untuk  mengecap makanan dan minuman disini tak terlalu mahal. Untuk rijstaffel bandar soenda kelapa  harus merogoh kocek Rp 58 ribu, sedangkan  Es Sanghai Blue 1920 seharga Rp 30 ribu. “Rata-rata pelanggan menghabiskan uang Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu,” kata  Meggi.

Tapi, bila berharap mencari minuman yang beraroma alkohal, restoran ini juga menyediakan beragam jenis wine. Sebut saja Chatteau Leoville Poy Ferrie dam Chatteau   beause jaur. Masing-masing berbandrol Rp 1 juta dan Rp 1,5 juta
Box :

Ide awalnya dari Benda Antik

Warong Shanghai Blue 1920 ini milik Anhar Setiadibrata. Anhar sendiri juga sebagai pemilik beberapa restoran lainnya seperti Samarra Pasar Sate & Wine, Lara Djonggrang, Babah & Betawi  Cuisine dan beberapa hotel Tugu yang tersebar dibeberapa kota di luar  Jakarta seperti Blitar.

Hampir semua restoran dan hotel milik Anhar memiliki nuasa etnik. Samarra mengadopsi nuansa timur tengah,  Lara Djonggrang diilhami oleh cerita etnik Jawa dan Warong Shanghai Blue 1920 ini sendiri budaya Betawi.

Meggi Windari, Marketing  Shanghai Blue 1920 mengatakan hal ihwal Anhar membuat restoran ini adalah karena ketertarikannya pada benda-benda antik. “ Begitu juga dengan  benda-benda dari pewaris  Warong Shanghai Blue 1920,” katanya.

Dan Shanghai Blue 1920 ini sendiri untuk mengenang warong Shanghai Sunda Kelapa yang didirikan oleh Mpok Siti Djaenap pada tahun 1920. Djaenap sendiri menikah dengan Chan Mo Sang, seorang peranakan China.

Warong milik Djaenap yang berlokasi di Sunda Kelapa ini sendiri harus tutup pada tahun 1940. Pendek kata, Anhar akhirnya menemukan benda-benda antik milik Djaenap seperti mesin jahit, mesin sol dan kursi cukup yang membuatnya terinspirasi untuk membuat Warong Shanghai Blue 1920

Kali ini Pelancong ingin mengajak mengudap masakan  di kampung halaman. Kabupaten DEMAK. Mendengar nama daerah Kota Demak, pasti daerah ini terkenal dengan Masjid Agungnya. Bila sesekali singgah di kabupaten pesisir utara Jawa ini jangan lupakan Rumah Makan Rahayu.

Rumah makan (RM) ini menghuni bangunan yang berada di Jalan protokol  Sultan Patah 41  Kota Demak. Dan letaknya hanya selemparan batu dari Masjid Agung Demak dari arah Semarang. Mencarinya  tak begitu sulit.

Nama Rahayu ini diambil dari nama pemilik RM ini, Sri Rahayu.  Pertama kali Sri Rahayu mendirikan rumah makan ini tahun 1965 berada di daerah Pecinan (Kawasan orang Cina), sebelah timur Masjid Demak ke arah kudus.  Dan mulai pindah di lokasi yang saat ini ditempatinya sejak tahun 1990. 

Sejak tahun 1995, Sri Rahayu yang kini berusia 77 tahun tak lagi menanggani operasional RM ini. Semua aktifitas kini beralih pada pada Bambang, anak tertua dari perkawinannnya dengan  Biso Mukti, yang kini sudah meninggal.

Layaknya rumah makan biasa, masakan yang disediakan bermacam-macam. Sebut saja     Asem-asem, nasi pecel telor, soto dan  gado-gado. Harganya bervariasi antara Rp 6.000  hingga Rp 10.000.  Minuman yang sediakan juga beragam  Dawet, the, Jeruk dan Tape dan Soda, harga yang dipatok berkisar Rp 6.000.  

Selain tergolong megah, rumah makan ini  juga cukup bersih. Dengan jumlah meja mencapai 10 meja panjang, dapat menampung jumlah pengunjung  hingga 60 orang
 

Lebih enak di Siang Hari

Dari racikan masakan tersebut, Asem-asem ini menjadi sajian unggulan rumah makan ini. “Pengunjung kebanyakan mencari masakan  ini,” kata Bambang, anak tertua dari Sri Rahayu yang kini pengelola restoran ini.

Asem-asem ini sendiri rasanya asam kecut  karena menggunakan blimbing wuluh yang cukup banyak dan sedikit pedas. Dan tak luput  dibumbui asem jawa. Rasanya rame benggeeet.  

Sebenarnya racikan bumbi Asem-asem ini tak ubahnya masakan Garang Asem. Meraciknya dengan rebusan daging sapi yang sudah terpotong-potong kecil. Yang kemudian ditambah cabai merah, cabai hijau, daun salam dan laos. Campur bumbu tumis ke dalam kaldu daging serta buncis, dan tomat hijau. Dan kemudian  masak hingga matang. Yang membedakannya Asem-asem ini mengunakan daging sapi, sedangkan Garang Asem mengunakan ayam kampung

Meski masakan asem-asem ini bisa disantap kapan saja, tapi terasa nikmat masakan asem-asem ini lebih nikmat di siang hari. Udara siang hari sangat sesuai dengan rasa makanan yang didomonasi asem-kecut ini. “Pengunjung bisa makan sekaligus mengeluarkan keringat,” kata  bapak tiga anak ini.

Jam buka rumah makan ini antara jam 08.30 pagi hingga 20.00.  Setiap hari tak kurang menghabiskan 500 porsi asem-asem ludes berpindah ke perut para langanan.  Porsi tersebut memerlukan daging  sapi kurang lebih 10 kg.
 
Bambang tak sendirian untuk melayani pengunjung di rumah makan ini. Bersama karyawannya yang berjumlah 15 orang, Ia melayani  pelanggan yang kebanyakan berasal dari luar kota Demak.  

Beruntung dekat Masjid Demak

RM ini tergolong besar di kota yang dikenal penghasil Buah Blimbing ini.  Luas tanahnya mencapai 80 m2 dan tempat parkinya lumayan luas. Jumlah rumah makan  seperti RM Rahayu ini bisa dihitung dengan jari di kabupatan ini .

RM Rahayu ini pernah pindah selama dua kali. Sebelumnya berada di arah timur Masjid  Agung Demak ke arah Kota kudus,  dan kini berdiri di  arah barat menuju Semarang.

Menurut Bambang, pengelola rumah makan ini dan merupakan anak pertama Sri Rahayu        keberadaan  Lokasi ini sangat tertolong dengan keberadaan masjid ini. Banyak pejabat selepas lawatan untuk berkunjung ke Kabupaten ini ke masjid dan sekaligus mampir mencicipi masakan asem-asem ini. “Setidaknya menjadi promosi gratis,” katanya.

Ia menyebutkan beberapa nama  pejabat dan mantan pejabat yang pernah berkuasa seperti seperti Agung Laksono, Gus Dur, Megawati dan  AS Hikam pernah menyantap  singgah di sini. Bahkan artis beken seperti Maudy Koesnady, Dewi Persik dan Dewi Hughes juga pernah menyantap masakan.  

Merantau untuk mengadu nasib di negeri orang memang terasa berat. Meredam kerinduan terhadap keluarga dilakukan demi mengais rupiah. Tak hanya itu, sang pandatang  juga berpuasa menyantap makanan masakan asli  dari kampung halaman.

Kali ini PELANCON sedikit mengurai masakan asli dari Jawa Timur. Bagi pendatang asal Jawa Timur dipastikan mengenal nasi Nasi Rawon, masakan khas ini bisa disantap kapan saja, pagi hingga malam hari.

Salah satunya adalah nasi Rawon Setan mbak Endang. Warung yang kini sudah dikelola secara modern dengan mengunakan sistem waralaba sudah mulai bermunculan di Jakarta. Saat ini tercatat terdapat tuju warung yang berlokasi yang berbeda. Sebut saja daerah kelapa gading, pluit, kemang, Kedoya dan Tebet.
 
Yanti Indrianti, pengelola nasi rawon Setan mbak Endang menuturkan bahwa warung yang berlokasi di Tebet ini adalah cabang kedua. Dan baru buka kurang lebih tiga bulan yang lalu. Warung yang pertama ini berada di Pluit, Jakarta Utara sudah dua tahun silam.

Layaknya nasi rawon biasa, Warung Setan  ini berwarna hitam kecoklatan.   Warna ini berasal dari kluwek yang sering dipakai untuk bumbu masak yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna.”Kluwak ini merupakan bumbu wajib dari masakan  rawon,” ujar Yanti.

Warung ini menyediakan empat menu utama, rawon campur, rawon pisah dan  rawon spesial sop iga. Selain itu, warung ini juga melayani  nasi rawon campur yang terdiri dari telur daging dan tahu, serta rawon krengsengan yang terdapat tambahan paru dan empal.

Untuk menyantap  rawon setan ini relatif murah. Nasi rawon ini di jual  bervariasi antara Rp 12.000 hingga Rp  25.000.

Warung milik Hero Ghozali, buka setiap hari. Hari biasa, warung yang berada pinggir jalan Dr. Satrio ini buka mulai jam 09.00 hingga 03.00 pagi. Dan khusus bulan puasa mulai jam 10 pagi hingga 04.00 pagi,

Mengelola dua tempat sekaligus, Yanti tidak bekerja sendirian. Sebanyak 30 orang karyawan berkerja di dua tempat berbeda. Mereka dibagi menjadi dua shift. Yanti menceritakan saban hari dua warungnya menghabiskan 80 kg daging sapi, 5 kg empal dan 5kg paru yang habis berpindah ke perut pelanggan.

Warung ini berdiri di tanah seluas sekitar 60 meter2. Meja yang disediakan  sebanyak 20 meja dan mampu menampung sebanyak 150 orang.

BOX : Tak Jual kemenyan

Mendengar nama setan, tentu terlintas di benak kita adalah segala sesuatu yang berbau magis. Misalnya bunga, kemenyan, dupa dan berada di keremangan malam.

Untungnya, Warung Rawon Setan mbak Endang ini tak seperti  yang diduga, kalau tidak maka pelanggan bakalan tak bersedia menyantap masakan warung ini. Selain cukup bersih, puluhan foto artis seperti Rossa, Endin, dan Tukul menghiasi terpasang di berbagi sudut warung.  
 
Disebut setan karena warung ini semula baru buka tengah malam, yakni pukul 23.00 dan tutup pukul 03.00. Warung ini dulu biasa melayani anak muda yang baru pulang dari go skate atau kafe di hotel–hotel di sepanjang Jalan Embong Malang. Seiring dengan waktu,  peminat masakan ini tak hanya di malam hari saja

kali ini Sang Pelancong sedikit menceritakan tentang suku Tengger.  Kesempatan untuk mengunjungi Gunung Bromo yang terkenal ini akhirnya tiba jua.  Sebelum masuk daerah kawah bromo, Pelancong melewati salah satu desa ini dimana  salah satu penduduk sedang melakukan hajatan. Dalam rangka meramaikan hajatan yang digelar. Desa Ngadas tepatnya.  Salah satu penduduk tersebut memiliki  hajat  memanggil group dhandhut untuk menghibur penduduk suku tengger yang terletak di Desa Ngadas. Lagu yang didendangkan tak jauh berbeda dengan alunan nada musik secara umumnya yang kerap di dengar masyarakat kota. Penduduk yang hadirpun mengunakan pakaian yang lazim digunakan Suku Tengger, sarung yang dikalungkan di leher. Dan lagu  Jablay milik  Titi Kamal pun berdendang.

Cerita di atas mengambarkan bahwa Suku Tengger saat ini sudah mengalami sedikit perubahan dengan melihat minat terhadap hiburan. Keberadaan listrik yang sudah masuk di Desa Ngadas ini menyebabkan adaya media televisi yang membawa beragam informasi. Suguhan hiburan dengan panggung terbuka yang diselenggarakan pada siang hari dan ramainya pengunjung memperlihatkan kebutuhan untuk mengintip kebudayaan dari luar.

Desa Ngadas berdekatan dengan Desa Wonokerto yang terletak di Kabupaten Probolinggo. Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat “orang Tengger” yang telah menganut Islam. Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah “desa Islam” yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.

Penduduk Wonokerto ini sebagian besar memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto. Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.

Keduanya berada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Wonokerto adalah desa muslim, semua warganya adalah warga Tengger. Namun desa ini tidak diakui oleh desa-desa Tengger disekitarnya, karena mereka relah menganut agama Islam. Memang di desa ini terjadi proses Islamisasi yang intensif yang disukung oleh pemerintah desa, para ustad dari Probolinggo, dan beberapa guru agama Islam. Dari perangkat desa ini aku mendapatkan beberapa data, diantaranya monografi desa, perdes-perdes yang berisi susunan APBD (anggaran desa), termasuk proses pengembangan agama Islam yang dilakukan oleh perangkat desa. Walau begitu di desa ini terdapat pembangkangan yang dilakukan oleh warganya. Secara personal mereka tetap menjalankan ritual di danyang dan pamujan, walau telah diharamkan oleh kiai setempat. Aku belum sempat menemui mantan dukun di desa ini yang digantikan oleh modin. Sebab dukun yang bersangkutan masih memiliki hajatan. Tokoh lain yang menimbulkan gerakan resistensi adalah mantan kepala desa. Hingga sekarang dia masih menjalankan tradisi tengger, walau lingkungannya telah sangat Islamis.

Pola-pola kecenderungan perilaku antara warga Ngadas dengan Wonokerto dalam memandang bidan dan program kesehatan dari pemerintah, termasuk KB. Ia juga menceritakan mengenai kebijakan Desa Wonokerto yang mulai meninggalkan dukun bayi sebagai pelayan kesehatan masyarakat. Namun upaya ini tidak berjalan di Desa Ngadas, sebab masyarakat desa ini masih menganggap dukun bayi sebagai bagian penting dari proses ke-Tenggeran mereka.

YOGYAKARTA.  Satu daerah berada di selatan Jawa Tengah  yang identik dengan kota pendidikan. Beragam mahasiswa berasal dari semua penjuru tanah air berlomba untuk menuntut ilmu di kota Gudeg, nama lain Yogyakarta.   Bahkan dari manca negara  tak mau ketinggalan.

Lazimnya kota besar lainnya, Yogyakarta memiliki pesona asmara terlarang. Awalnya pusat  wilayah yang menawarkan transaksi tersembunyi ini hanya ada di daerah pasar kembang (Sarkem). Seiring dengan perkembangan Sarkem kini sudah banyak ditinggalkan penghuninya. Sunyi senyap. Kalaupun masih tersisa hanya sebatas transaksi pada strata masyarakat kelas bawah.    

Lantas, berhentikah transaksi terlarang ini di kota yang terkenal dengan buah tangan bernama bakpia ini? Seiring dengan meredupnya pamor Sarkem, transaksi terlarang ini mulai berubah rupa. Sebut saja salon dan tempat pemijat plus mulai menjamur diberbagai penjuru kota, meski belakangan ini juga geliat bisnis ini berkurang karna seringnya razia aparat keamanan.

Namun bagi pemilik naluris bisnis, sex adalah bisnis yang tak ada matinya. Konon pujangga kerap kali mengatakan bahwa keberadaan bisnis syahwat ini juga seiring dengan   adanya dunia ini. Ada benarnya memang!

Di kota Yogyakarta kini  muncul  sebutan “asrama”.  Asrama ini bukan berarti tempat para penimba ilmu untuk sebentar memincingkan mata dari buku dan diktat kuliah. Sebaliknya Asrama ini sebutan rumah yang menawarkan kenikmatan terlarang.

Lokasinya “asrama” tak berada jauh di sekitar Jl. Malioboro.  Setidaknya ada tiga asrama yang siap menampung syahwat terlarang para lelaki pemuja nafsu sesaat ini. Dan letaknya di gang-gang di sekitar Jl. Malioboro tersebut dan tak sampai 10 menit dengan berjalan kaki. Ada juga yang berada di dekat Statisun Kereta Api Tugu.
 
Asrama berbentuk rumah biasa layaknya milik penduduk asli. Sekilas tak jauh berbeda. 
Tentu saja masih ada sedikit perbedaan. Asrama ini tetap terang benderang meski sang waktu sudah menujukkan angka 11 malam. Saat  hendak masuk pintu, maka sambutan ramah dari pemilik rumah –sang mucikari- akan menyapa. Lantas tamu akan dibawa menuju ruangan yang cukup lumayan besar yang berisi puluhan wanita muda umur belasan tahun. Tertarik!  jari telunjuk  milik tamu sebagai cara ampuh untuk bisa mengajak salah satu penghuni  untuk berolahraga syahwat sesaat.
 
Asrama melayani layanan non kamar. Artinya tamu hanya boleh membawa penghuni kemana suka.  Sebab Asrama tidak menyediakan layanan paket plus kamar. Tarifnya untuk short time sebesar Rp 300 ribu, dan long time mencapai jutaan rupiah.  

Namun sebelum anda mencoba gairah malam anak yogyakarta ini, ada baiknya anda berfikir bahwa ini hanyalah kenikmatan sesaat. Bagi kalangan beriman yang maish ingat akan dosa, ada baiknya   bahwa informasi ini hanya sekilas berita dari  “ Sang Pelancong” mengunjungi kota Yogyakarta belum lama ini.