Feeds:
Posts
Comments

JAKARTA. Mencari masakan yang berasal dari Betawi amat mudah di jumpai di Jakarta ini. Maklum,  Betawi ini sendiri merupakan asal muasal ibu kota ini.

Tapi, tak banyak restoran yang menyediakan racikan masakan yang mengawinkan dua ramuan masakan sekaligus. Misalnya saja masakan Betawi dengan masakan lainnya seperti asal negeri China. Bila anda berharap untuk mencicipi masakan yang mengawinkan ini, cobalah datang ke Shanghai Blue 1920.

Restoran ini terletak di Jl. Kebun Sirih Raya no 77-79, Jakarta pusat.  Tak jauh dari jalan protokol,  MH Tamrin.

Suasana Shanghai Blue 1920 cukup unik. Nuasa china yang balutan warna merah dari  puluhan lampu yang menyerupai lampion yang mengantung serta pose lukisan orang china terpampang di sana-sini. “Kita memang mempertahankan ciri khas china dengan budaya Betawi,” kata Meggi Windari, Marketing  Shanghai Blue 1920.

Jam buka restoran ini dari jam 11 siang hingga 11 malam. Restoran mampu menampung sekitar 70 orang pengunjung. Sebagian besar berisi meja yang  memuat empat orang, hanya satu meja panjang yang mampu menampung 16 orang.

Salah satu sudut ruangan ini  terdapat panggung kecil untuk bermain musik. Untuk memikat pelanggan, musik khusus beraliran jazz akan mengalun pada hari Rabu dan Jumat malam.
  
Masakan restoran ini cukup beragam misalnya saja untuk hidangan pembuka (appetizers) seperti lumpia udang kaca saus tauco, siomay 1920, kue tie tiga macan dan kerang pangang bawang putih.

Untuk main course alias menu utama sebut saja sosis tahu kepiting, bebek goreng sanghai, buntut resep sanghai dan daging  masak kacang hitam, udang besar mabok dan nasi uduk bebek dan rijstaffel bandar soenda kelapa dan nasi semur cirah betawi  

Dan beberapa minuman yang disediakan adalah es sanghai blue 1920, es surga ketujuh, es campur sirsat, es kacang hijaum dan es kepala jeruk.

Meski berupaya memadukan masakan China dan Betawi,  masakan dari babi tak akan dijumpai di Shanghai Blue 1920. Sebab, resep masakan yang ini berasal dari china peranakan yang sudah bermukim lama di daerah Betawi ini. 

Dari menu yang ada, rijstaffel bandar soenda kelapa  merupakan masakan andalan rumah makan milik Anhar Setiadibrata. Menu ini cukup beragam yaitu terdiri dari ayam goreng, udang goreng, pepes ikan patin, gorengan jagung manis, jengkol, emping dan sayur asem. Tak luput ada serundeng yang terbuat dari parutan kelapa goreng. Rasanya sedikit pedas dan manis.

Rijstaffel disajikan pada piring besar yang menyerupai loyang.  Dan ada satu lembar daun jati sebagai tatakan piring. “Rasanya daun jati ini penyedap,” kata Jounatta, supervisor  Shanghai Blue 1920.

Sedangkan andalan untuk minuman di  restoran yang berdiri dari 31 Agustus 2006 ini   Es Sanghai Blue 1920. Sekilis menyerupai minuman es campur dengan serutan es yang mengunung.

Es Sanghai Blue 1920 ini terdiri dari nanas, cingcau hitam, kacang merah, anggur dan tape ketan. Yang cukup unik dari minuman ini adalah warnanya biru laut. “Warna ini didapatkan  gula yang terbuat dari blue monin,”papar  Jounatta.

Harga yang dipatok untuk  mengecap makanan dan minuman disini tak terlalu mahal. Untuk rijstaffel bandar soenda kelapa  harus merogoh kocek Rp 58 ribu, sedangkan  Es Sanghai Blue 1920 seharga Rp 30 ribu. “Rata-rata pelanggan menghabiskan uang Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu,” kata  Meggi.

Tapi, bila berharap mencari minuman yang beraroma alkohal, restoran ini juga menyediakan beragam jenis wine. Sebut saja Chatteau Leoville Poy Ferrie dam Chatteau   beause jaur. Masing-masing berbandrol Rp 1 juta dan Rp 1,5 juta
Box :

Ide awalnya dari Benda Antik

Warong Shanghai Blue 1920 ini milik Anhar Setiadibrata. Anhar sendiri juga sebagai pemilik beberapa restoran lainnya seperti Samarra Pasar Sate & Wine, Lara Djonggrang, Babah & Betawi  Cuisine dan beberapa hotel Tugu yang tersebar dibeberapa kota di luar  Jakarta seperti Blitar.

Hampir semua restoran dan hotel milik Anhar memiliki nuasa etnik. Samarra mengadopsi nuansa timur tengah,  Lara Djonggrang diilhami oleh cerita etnik Jawa dan Warong Shanghai Blue 1920 ini sendiri budaya Betawi.

Meggi Windari, Marketing  Shanghai Blue 1920 mengatakan hal ihwal Anhar membuat restoran ini adalah karena ketertarikannya pada benda-benda antik. “ Begitu juga dengan  benda-benda dari pewaris  Warong Shanghai Blue 1920,” katanya.

Dan Shanghai Blue 1920 ini sendiri untuk mengenang warong Shanghai Sunda Kelapa yang didirikan oleh Mpok Siti Djaenap pada tahun 1920. Djaenap sendiri menikah dengan Chan Mo Sang, seorang peranakan China.

Warong milik Djaenap yang berlokasi di Sunda Kelapa ini sendiri harus tutup pada tahun 1940. Pendek kata, Anhar akhirnya menemukan benda-benda antik milik Djaenap seperti mesin jahit, mesin sol dan kursi cukup yang membuatnya terinspirasi untuk membuat Warong Shanghai Blue 1920

Kali ini Pelancong ingin mengajak mengudap masakan  di kampung halaman. Kabupaten DEMAK. Mendengar nama daerah Kota Demak, pasti daerah ini terkenal dengan Masjid Agungnya. Bila sesekali singgah di kabupaten pesisir utara Jawa ini jangan lupakan Rumah Makan Rahayu.

Rumah makan (RM) ini menghuni bangunan yang berada di Jalan protokol  Sultan Patah 41  Kota Demak. Dan letaknya hanya selemparan batu dari Masjid Agung Demak dari arah Semarang. Mencarinya  tak begitu sulit.

Nama Rahayu ini diambil dari nama pemilik RM ini, Sri Rahayu.  Pertama kali Sri Rahayu mendirikan rumah makan ini tahun 1965 berada di daerah Pecinan (Kawasan orang Cina), sebelah timur Masjid Demak ke arah kudus.  Dan mulai pindah di lokasi yang saat ini ditempatinya sejak tahun 1990. 

Sejak tahun 1995, Sri Rahayu yang kini berusia 77 tahun tak lagi menanggani operasional RM ini. Semua aktifitas kini beralih pada pada Bambang, anak tertua dari perkawinannnya dengan  Biso Mukti, yang kini sudah meninggal.

Layaknya rumah makan biasa, masakan yang disediakan bermacam-macam. Sebut saja     Asem-asem, nasi pecel telor, soto dan  gado-gado. Harganya bervariasi antara Rp 6.000  hingga Rp 10.000.  Minuman yang sediakan juga beragam  Dawet, the, Jeruk dan Tape dan Soda, harga yang dipatok berkisar Rp 6.000.  

Selain tergolong megah, rumah makan ini  juga cukup bersih. Dengan jumlah meja mencapai 10 meja panjang, dapat menampung jumlah pengunjung  hingga 60 orang
 

Lebih enak di Siang Hari

Dari racikan masakan tersebut, Asem-asem ini menjadi sajian unggulan rumah makan ini. “Pengunjung kebanyakan mencari masakan  ini,” kata Bambang, anak tertua dari Sri Rahayu yang kini pengelola restoran ini.

Asem-asem ini sendiri rasanya asam kecut  karena menggunakan blimbing wuluh yang cukup banyak dan sedikit pedas. Dan tak luput  dibumbui asem jawa. Rasanya rame benggeeet.  

Sebenarnya racikan bumbi Asem-asem ini tak ubahnya masakan Garang Asem. Meraciknya dengan rebusan daging sapi yang sudah terpotong-potong kecil. Yang kemudian ditambah cabai merah, cabai hijau, daun salam dan laos. Campur bumbu tumis ke dalam kaldu daging serta buncis, dan tomat hijau. Dan kemudian  masak hingga matang. Yang membedakannya Asem-asem ini mengunakan daging sapi, sedangkan Garang Asem mengunakan ayam kampung

Meski masakan asem-asem ini bisa disantap kapan saja, tapi terasa nikmat masakan asem-asem ini lebih nikmat di siang hari. Udara siang hari sangat sesuai dengan rasa makanan yang didomonasi asem-kecut ini. “Pengunjung bisa makan sekaligus mengeluarkan keringat,” kata  bapak tiga anak ini.

Jam buka rumah makan ini antara jam 08.30 pagi hingga 20.00.  Setiap hari tak kurang menghabiskan 500 porsi asem-asem ludes berpindah ke perut para langanan.  Porsi tersebut memerlukan daging  sapi kurang lebih 10 kg.
 
Bambang tak sendirian untuk melayani pengunjung di rumah makan ini. Bersama karyawannya yang berjumlah 15 orang, Ia melayani  pelanggan yang kebanyakan berasal dari luar kota Demak.  

Beruntung dekat Masjid Demak

RM ini tergolong besar di kota yang dikenal penghasil Buah Blimbing ini.  Luas tanahnya mencapai 80 m2 dan tempat parkinya lumayan luas. Jumlah rumah makan  seperti RM Rahayu ini bisa dihitung dengan jari di kabupatan ini .

RM Rahayu ini pernah pindah selama dua kali. Sebelumnya berada di arah timur Masjid  Agung Demak ke arah Kota kudus,  dan kini berdiri di  arah barat menuju Semarang.

Menurut Bambang, pengelola rumah makan ini dan merupakan anak pertama Sri Rahayu        keberadaan  Lokasi ini sangat tertolong dengan keberadaan masjid ini. Banyak pejabat selepas lawatan untuk berkunjung ke Kabupaten ini ke masjid dan sekaligus mampir mencicipi masakan asem-asem ini. “Setidaknya menjadi promosi gratis,” katanya.

Ia menyebutkan beberapa nama  pejabat dan mantan pejabat yang pernah berkuasa seperti seperti Agung Laksono, Gus Dur, Megawati dan  AS Hikam pernah menyantap  singgah di sini. Bahkan artis beken seperti Maudy Koesnady, Dewi Persik dan Dewi Hughes juga pernah menyantap masakan.  

« Newer Posts - Older Posts »