<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>pelancong</title>
	<atom:link href="http://pelancong.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pelancong.wordpress.com</link>
	<description>ceriakan hari bersama si pelancong</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jan 2008 08:21:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pelancong.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>pelancong</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pelancong.wordpress.com/osd.xml" title="pelancong" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pelancong.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kuliner Sehat nan Lezat di Pondok Daun Cikini</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2008/01/01/kuliner-sehat-nan-lezat-di-pondok-daun-cikini/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2008/01/01/kuliner-sehat-nan-lezat-di-pondok-daun-cikini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 08:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2008/01/01/kuliner-sehat-nan-lezat-di-pondok-daun-cikini/</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA. Teramat mudah mencari masakan instan semacam fast food di kota besar seperti Jakarta. Tak hanya berada di pusat perbelanjaan saja, restoran cepat saji ini berjibun di tiap sudut kota.   Nah, apabila berharap mengudap masakan yang sedikit berbeda, cobalah  mencicipi menu dengan konsep masakan organik. Salah satunya adalah Warung Daun milik  Hariyanto Prayitno. Hari, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=24&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA. Teramat mudah mencari masakan instan semacam fast food di kota besar seperti Jakarta. Tak hanya berada di pusat perbelanjaan saja, restoran cepat saji ini berjibun di tiap sudut kota.<br />
 <br />
Nah, apabila berharap mengudap masakan yang sedikit berbeda, cobalah  mencicipi menu dengan konsep masakan organik. Salah satunya adalah Warung Daun milik  Hariyanto Prayitno.</p>
<p>Hari, panggilan akrab Hariyanto Prayitno mulai membuka restoran untuk pertama kalinya pada tahun 2003. Awalnya, masakan yang disajikan khusus masakan sunda saja. Misalnya gurame bakar dan  sayur asem sunda, plus sambal lalapan.</p>
<p>Bapak tiga anak ini mulai mengubah racikan masakan yang disajikan menjadi olahan organik. Sejak 2005, semua olahan masakan ini menanggalkan beragam bahan yang dianggap tidak alami semacam zat pengawet atau MSC.</p>
<p><font color="#993366">Menu Sunda Masih andalan</font></p>
<p>Banyaknya persaingan warung sunda di Jakarta ini membuat hari mulai memutar otak. Tak hanya sajian masakan sunda menjadi menu utama, makanan khas daerah lain seperti Gorontalo, Samarinda, dan Madura. “Kami beralih menyediakan  masakan indonesia,” terang pria kelahiran Surabaya ini.</p>
<p>Seiring dengan waktu, Hari sebulan lalu membuka cabang warung Daun ketiga. Lokasinya di daerah elit ibu kota ini, Jl. Cikini Raya No. 26 Menteng. Tepat di depan pintu masuk lokasi Taman Ismail Marzuki (TIM).</p>
<p>Warung ini cukup lebar,  berdiri atas lahan seluas 100 m2. Sekitar 20 meja disediakan dengan jumlah kursi berkisar antara empat hingga enam kursi untuk satu meja makan. Warung Daun ini  juga menyediakan meja di luar ruangan. Totalnya  mampu memuat 100 orang.</p>
<p>Menu yang disajikan Warung daun ini cukup beragam. Hidangan pembuka seperti lumpia ayam rebung, tempe &amp; tahun goreng dan cumi goreng tepung. Sedangkan untuk hidangan hidangan utama dapat dipilih berdasarkan lauk pauk yang berasal dari ikan, daging dan ayam. Misalnya saja  ikan gurame goreng  atau bakar, udang gala, cumi untuk lauk yang berasal dari ikan.</p>
<p>Sedangkan sate maranggi, empang daging, dan oseng daging cabe hijau mewakili lauk  dari daging.   Untuk olahan lauk dari ayam bisa dilakukan dengan dengam bakar dan goreng, plus sate ayam.</p>
<p>Sesuau konsepnya yang mengandaklan organik, Warung Daun ini juga menyediakan beragam sayuran. Sebut saja tumis genjer, kangkung polos dan toge ikan asin.</p>
<p>Sedangkan untuk menumin, Warung daun ini tak memiliki menu andalan. Beragam minuman seperti es cendol, teh poci, es tape ketan dan es kelapa muda jeruk medan.</p>
<p>Dari menu makanan  tersebut, Warung milik Hari ini mengandalkan racikan Gurema Saus Mangga dan nasi liwet sunda. Tak luput sambel ngebul menjadi satu paket. “Masakan ini banyak dicari,” kata Hari.</p>
<p>Rasa olahan ini seperti lazimnya masakan Gurame saus. Bedanya,  Gureme olahan milik Hari ini ditaburi irisan kecil-kecil buah Mangga yang berasal dari daerah Indramayu. Rasanya sekidit rame dengan aroma buah mangga. Khusus sambal  beralaskan cobek kecil, aroma terasi terasa menyengat disertai kebulan asap pertanda baru saja dianggakat dari tungku perapian.</p>
<p>Untuk mencicipi masakan di Warung Daun ini, harga yang dipatok bervariatif.  Berkisar Rp 20 ribu    untuk hidangan pembuka dan  Rp 65 ribu untuk makan besar alias menu utama</p>
<p><font color="#ff6600">Nekat Masuk Wilayah Menteng </font></p>
<p><font color="#ff6600">Hobi makan kadang bisa membuat peruntungan hidup. Begitu juga dengan perjalanan hidup Hariyanto Prayitno Pemilik Perusahaan PT Kriya Mandiri Rasa  dengan  restoran bernama Warung Daun.  </font></p>
<p><font color="#ff6600">Melepas status sebagai karyawan di Pabrik Pupuk Kaltim pada tahun 1999, hari banting  setir membuka  Warung Daun pada tahun 2003. “Sejak muda, makan adalah salah satu hobi saya,” kata    Hariyanto<br />
   <br />
Awalnya, warung ini pertama kali berdiri   di Jl. Wolter Mongonsidi, Kebayoran dan  selanjutnya  berlokasi warung kedua di Jl Pakubuwono. Setelah merasa cukup punya modal nama, Hari, begitu panggilan akbab  Hariyanto Prayitno membuka cabang di Menteng, sebulan yang lalu.  </font></p>
<p><font color="#ff6600">Saat menentukan Menteng menjadi lokasi selanjutn<img border="0" width="1" src="http://pelancong.wordpress.com/wp-admin/" height="1" />ya. Bagi bapak tiga anak ini nekat investasi besar-besaran untuk restoran lebih dari Rp 2,5 milyar hanya untuk biasa sewa selama lima tahun. “Modalnya   nekat saja, belum tentu bisa balik modal ,” katanya. </font></p>
<p><font color="#ff6600">Kendati nekat, Hari sudah memperhitungkan secara matang siapa saja yang menjadi target pasar restoran yang baru dibukanya sebulan Selain, kalangan karyawan perusahaan yang ada disekitar Menteng, Ia juga membidik kalangan pekerja pemerintahan. “Lokasi usaha menjadi pertimbangan utama untuk berbisnis. Keduanya   memiliki hubungan erat prospek dan keberhasilan  bisnis,” terang Hari bak filsuf.<br />
</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=24&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2008/01/01/kuliner-sehat-nan-lezat-di-pondok-daun-cikini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pelancong.wordpress.com/wp-admin/" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Memburu sate Tirus ke Tegal</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/12/27/memburu-sate-tirus-ke-tegal/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/12/27/memburu-sate-tirus-ke-tegal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 12:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/12/27/memburu-sate-tirus-ke-tegal/</guid>
		<description><![CDATA[TEGAL. Kurang afdhol mengudap kuliner tusukan sate daging kambing apabila tak menyebut Kota Tegal. Sebab, aroma bakaran dagingnya memang menjadi menu andalan kota pesisir Pantai Utara Jawa ini. Kota besar macam Jakarta tentu saja menyediakan olahan sate asal Tegal. Namun, soal rasa tentu berbeda apabila secara khusus memburu lezatnya bakaran sate kambing di kota Bahari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=21&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TEGAL. Kurang afdhol mengudap kuliner tusukan sate daging kambing apabila tak menyebut Kota Tegal. Sebab, aroma bakaran dagingnya memang menjadi menu andalan kota pesisir Pantai Utara Jawa ini.</p>
<p>Kota besar macam Jakarta tentu saja menyediakan olahan sate asal Tegal. Namun, soal rasa tentu berbeda apabila secara khusus memburu lezatnya bakaran sate kambing di kota Bahari ini.</p>
<p>Mencari warung olahan daging kambing di Tegal sangatlah mudah. Hampir semua warung menyediakannya, jumlahnya pun mencapai puluhan.</p>
<p>Pusat menu ini di daerah Debong Lor, Tegal, ini nama asli dari kelurahan. Namun daerah ini lebhi kesohor dengan sebutan Tirus. Tirus ini sendiri awalnya adalah nama pengusaha Belanda yang menguasai komplek seluas 30 ha. (Baca ; Box)</p>
<p>Lokasi kompleks Tirus hanya berjarak 4 km dari pusat kota Tegal. Puluhan penjual sate bermukim di daerah ini, dan letaknya satu sama yang lain hanya selemparan batu.</p>
<p>Salah satu warung sate yang kesohor adalah milik Warung Makan Sate Tirus Sakya. Sakya sendiri adalah pemilik warung tersebut dan kini berganti nama menjadi Yahya setelah kepulangannya dalam Ibadah Haji tahun 1997. Warung ini terletak di Jl. Kapten Soedibyo No. 5 Tegal.</p>
<p>Balibu (Bawah Lima Bulan)</p>
<p>Pria yang kini berusia 75 tahun adalah sebagai pelopor penjual sate di Komplek Tirus. Awalnya, Sakya tak berniat membuka warung sate kambing tapi warung tegal (Warteg) pada tahun 1980. &#8220;Sate kambing hanya sampingan,&#8217; kata Shobirin, anak ke enam H. Yahya, yang kini mengelola warung pertama yang dirintis sang bapak.</p>
<p>Tak disangka, racikan sate kambing malah laku keras. Hal ini membuat H. Yahya memutuskan hanya menyediakan masakan daging kambing pada tahun 1985. Sop, gulai dan asem-asem adalah menu utama.</p>
<p>Kemashuran warung sate ini kemudian akhirnya membuat pria yang kini berumur 75 tahun mewariskan resep kepada delapan orang anaknya. Semuanya berjualan sate kambing Dan tercatat memilki sembilan warung, termasuk milik sang H Yahya.</p>
<p>Warung milik H. Yahya ini terbilang sederhana. Tercatat hanya ada tujuh kursi panjang yang mampu menampung pengunjung sebanyak 50 orang. Luas bangunan paling banter hanya 45 m2, sedangkan kondisi bangunan cukup tua dan belum ada renovasi sejak berdiri tahun 1980. &#8221; Kami ingin mempertahankan ciri khas ini,&#8221; kata Shobirin.</p>
<p>Jam buka warung ini dari pukul 8 pagi hingga 10 malam. Guna memenuhi permintaan, setiap hari tak kurang dari tiga hingga empat ekor kambing yang diolah menjadi sekitar 600 hingga 800 tusuk sate.</p>
<p>Shobirin mengatakan kambing masih muda yang menjadi santapan para penyuka daging kambing. Harga per ekor pun di patok maksimal Rp 300 ribu per ekor. &#8220;Maksimal berumur lima bulan atau Bawah lima bulan (Balibu),&#8221; katanya.</p>
<p>Soal rasa, tentu saja berbeda. Daging kambing muda sangat gurih, sedikit manis dan tak kenyal alias lembut di makan. Selain itu, ciri khas sate ini dibakar setengah matang.<br />
Satu porsi sate kambing yang berisi 10 tusuk, plus bumbu kecap manis yang dihidangkan dengan bawang merah, tomat dan cabe hijau. Harganya cukup murah Rp 13 ribu, sedangkan menu lainnya seperti gulai dan sop seharga Rp 8 ribu</p>
<p>Menyantap sate di Tegal tak akan lengkap juga tak menyeruput teh poci. Minuman ni disajikan dengan poci yang terbuat dari tanah merah dan untuk pemanis adalah gula batu. Apabila keduanya disantap hangat-hangat kuku, klop.</p>
<p>Tirus : Komplek Warisan Hindia Belanda</p>
<p>Ketenaran warung sate Tirus sudah menjadi rahasia umum. Padahal, nama kelurahan daerah ini adalah Debong Lor, sedangkan Tirus sendiri nama orang.</p>
<p>Muhammad Syari&#8217;i, mantan persiunan Brimob yang berpangkat terakhir Kapten ini menuturkan awalnya lokasi ini dimiliki oleh Van Tirus, pengusaha kaya yang berasal Belanda ini memilki lokasi ini sejak tahun 1887 hingga 1913. &#8220;Van Tirus memiki hak guna usaha tanah lebih dari 30 Ha,&#8221; kata pria berusia 71 tahun ini.</p>
<p>Awalnya, Van Tirus mengunakan tanah ini untuk lokasi perkebunan seperti Jagung dan Salak, tapi tak dijinkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memperpanjang kontrak pada tahun 1913. Tanah ini selanjutnya digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sendiri hingga kemerdekaan RI tahun 1945.</p>
<p>Pemerintah RI mulai menfungsikan tanah tersebut untuk perumahan Brimob pada tahun 1964. Komplek ini diresmikan oleh Suwarno, Komandan Resimen 3 Brimo Jawa Tengah.</p>
<p>Kini bekas rumah Van Tirus sudah berubah fungsi. Dengan sedikit perombangkan tak menghilangkan keaslian rumah ini, oleh masyarakat setempat digunakan sebagai Masjid dengan nama Nurul Iman. &#8220;Mulai berfungsi pada tahun 1993,&#8221; kata bapak sepuluh anak yang pensiun sejak tahun 1990 ini.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=21&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/12/27/memburu-sate-tirus-ke-tegal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengudap Racikan China Betawi di Shanghai 1920</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/12/02/mengudap-racikan-china-betawi-di-shanghai-1920/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/12/02/mengudap-racikan-china-betawi-di-shanghai-1920/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 13:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/12/02/mengudap-racikan-china-betawi-di-shanghai-1920/</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA. Mencari masakan yang berasal dari Betawi amat mudah di jumpai di Jakarta ini. Maklum,  Betawi ini sendiri merupakan asal muasal ibu kota ini. Tapi, tak banyak restoran yang menyediakan racikan masakan yang mengawinkan dua ramuan masakan sekaligus. Misalnya saja masakan Betawi dengan masakan lainnya seperti asal negeri China. Bila anda berharap untuk mencicipi masakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=20&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA. Mencari masakan yang berasal dari Betawi amat mudah di jumpai di Jakarta ini. Maklum,  Betawi ini sendiri merupakan asal muasal ibu kota ini.</p>
<p>Tapi, tak banyak restoran yang menyediakan racikan masakan yang mengawinkan dua ramuan masakan sekaligus. Misalnya saja masakan Betawi dengan masakan lainnya seperti asal negeri China. Bila anda berharap untuk mencicipi masakan yang mengawinkan ini, cobalah datang ke Shanghai Blue 1920.</p>
<p>Restoran ini terletak di Jl. Kebun Sirih Raya no 77-79, Jakarta pusat.  Tak jauh dari jalan protokol,  MH Tamrin.</p>
<p>Suasana Shanghai Blue 1920 cukup unik. Nuasa china yang balutan warna merah dari  puluhan lampu yang menyerupai lampion yang mengantung serta pose lukisan orang china terpampang di sana-sini. “Kita memang mempertahankan ciri khas china dengan budaya Betawi,” kata Meggi Windari, Marketing  Shanghai Blue 1920.</p>
<p>Jam buka restoran ini dari jam 11 siang hingga 11 malam. Restoran mampu menampung sekitar 70 orang pengunjung. Sebagian besar berisi meja yang  memuat empat orang, hanya satu meja panjang yang mampu menampung 16 orang.</p>
<p>Salah satu sudut ruangan ini  terdapat panggung kecil untuk bermain musik. Untuk memikat pelanggan, musik khusus beraliran jazz akan mengalun pada hari Rabu dan Jumat malam.<br />
  <br />
Masakan restoran ini cukup beragam misalnya saja untuk hidangan pembuka (appetizers) seperti lumpia udang kaca saus tauco, siomay 1920, kue tie tiga macan dan kerang pangang bawang putih.</p>
<p>Untuk main course alias menu utama sebut saja sosis tahu kepiting, bebek goreng sanghai, buntut resep sanghai dan daging  masak kacang hitam, udang besar mabok dan nasi uduk bebek dan rijstaffel bandar soenda kelapa dan nasi semur cirah betawi  </p>
<p>Dan beberapa minuman yang disediakan adalah es sanghai blue 1920, es surga ketujuh, es campur sirsat, es kacang hijaum dan es kepala jeruk.</p>
<p>Meski berupaya memadukan masakan China dan Betawi,  masakan dari babi tak akan dijumpai di Shanghai Blue 1920. Sebab, resep masakan yang ini berasal dari china peranakan yang sudah bermukim lama di daerah Betawi ini. </p>
<p>Dari menu yang ada, rijstaffel bandar soenda kelapa  merupakan masakan andalan rumah makan milik Anhar Setiadibrata. Menu ini cukup beragam yaitu terdiri dari ayam goreng, udang goreng, pepes ikan patin, gorengan jagung manis, jengkol, emping dan sayur asem. Tak luput ada serundeng yang terbuat dari parutan kelapa goreng. Rasanya sedikit pedas dan manis.</p>
<p>Rijstaffel disajikan pada piring besar yang menyerupai loyang.  Dan ada satu lembar daun jati sebagai tatakan piring. “Rasanya daun jati ini penyedap,” kata Jounatta, supervisor  Shanghai Blue 1920.</p>
<p>Sedangkan andalan untuk minuman di  restoran yang berdiri dari 31 Agustus 2006 ini   Es Sanghai Blue 1920. Sekilis menyerupai minuman es campur dengan serutan es yang mengunung.</p>
<p>Es Sanghai Blue 1920 ini terdiri dari nanas, cingcau hitam, kacang merah, anggur dan tape ketan. Yang cukup unik dari minuman ini adalah warnanya biru laut. “Warna ini didapatkan  gula yang terbuat dari blue monin,”papar  Jounatta.</p>
<p>Harga yang dipatok untuk  mengecap makanan dan minuman disini tak terlalu mahal. Untuk rijstaffel bandar soenda kelapa  harus merogoh kocek Rp 58 ribu, sedangkan  Es Sanghai Blue 1920 seharga Rp 30 ribu. “Rata-rata pelanggan menghabiskan uang Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu,” kata  Meggi.</p>
<p>Tapi, bila berharap mencari minuman yang beraroma alkohal, restoran ini juga menyediakan beragam jenis wine. Sebut saja Chatteau Leoville Poy Ferrie dam Chatteau   beause jaur. Masing-masing berbandrol Rp 1 juta dan Rp 1,5 juta<br />
Box :</p>
<p>Ide awalnya dari Benda Antik</p>
<p>Warong Shanghai Blue 1920 ini milik Anhar Setiadibrata. Anhar sendiri juga sebagai pemilik beberapa restoran lainnya seperti Samarra Pasar Sate &amp; Wine, Lara Djonggrang, Babah &amp; Betawi  Cuisine dan beberapa hotel Tugu yang tersebar dibeberapa kota di luar  Jakarta seperti Blitar.</p>
<p>Hampir semua restoran dan hotel milik Anhar memiliki nuasa etnik. Samarra mengadopsi nuansa timur tengah,  Lara Djonggrang diilhami oleh cerita etnik Jawa dan Warong Shanghai Blue 1920 ini sendiri budaya Betawi.</p>
<p>Meggi Windari, Marketing  Shanghai Blue 1920 mengatakan hal ihwal Anhar membuat restoran ini adalah karena ketertarikannya pada benda-benda antik. “ Begitu juga dengan  benda-benda dari pewaris  Warong Shanghai Blue 1920,” katanya.</p>
<p>Dan Shanghai Blue 1920 ini sendiri untuk mengenang warong Shanghai Sunda Kelapa yang didirikan oleh Mpok Siti Djaenap pada tahun 1920. Djaenap sendiri menikah dengan Chan Mo Sang, seorang peranakan China.</p>
<p>Warong milik Djaenap yang berlokasi di Sunda Kelapa ini sendiri harus tutup pada tahun 1940. Pendek kata, Anhar akhirnya menemukan benda-benda antik milik Djaenap seperti mesin jahit, mesin sol dan kursi cukup yang membuatnya terinspirasi untuk membuat Warong Shanghai Blue 1920</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=20&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/12/02/mengudap-racikan-china-betawi-di-shanghai-1920/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yuk, Mencicipi Asem-asem di Demak</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/11/05/yuk-mencicipi-asem-asem-di-demak/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/11/05/yuk-mencicipi-asem-asem-di-demak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 05:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/11/05/yuk-mencicipi-asem-asem-di-demak/</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini Pelancong ingin mengajak mengudap masakan  di kampung halaman. Kabupaten DEMAK. Mendengar nama daerah Kota Demak, pasti daerah ini terkenal dengan Masjid Agungnya. Bila sesekali singgah di kabupaten pesisir utara Jawa ini jangan lupakan Rumah Makan Rahayu. Rumah makan (RM) ini menghuni bangunan yang berada di Jalan protokol  Sultan Patah 41  Kota Demak. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=18&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini Pelancong ingin mengajak mengudap masakan  di kampung halaman. Kabupaten DEMAK. Mendengar nama daerah Kota Demak, pasti daerah ini terkenal dengan Masjid Agungnya. Bila sesekali singgah di kabupaten pesisir utara Jawa ini jangan lupakan Rumah Makan Rahayu.</p>
<p>Rumah makan (RM) ini menghuni bangunan yang berada di Jalan protokol  Sultan Patah 41  Kota Demak. Dan letaknya hanya selemparan batu dari Masjid Agung Demak dari arah Semarang. Mencarinya  tak begitu sulit.</p>
<p>Nama Rahayu ini diambil dari nama pemilik RM ini, Sri Rahayu.  Pertama kali Sri Rahayu mendirikan rumah makan ini tahun 1965 berada di daerah Pecinan (Kawasan orang Cina), sebelah timur Masjid Demak ke arah kudus.  Dan mulai pindah di lokasi yang saat ini ditempatinya sejak tahun 1990. </p>
<p>Sejak tahun 1995, Sri Rahayu yang kini berusia 77 tahun tak lagi menanggani operasional RM ini. Semua aktifitas kini beralih pada pada Bambang, anak tertua dari perkawinannnya dengan  Biso Mukti, yang kini sudah meninggal.</p>
<p>Layaknya rumah makan biasa, masakan yang disediakan bermacam-macam. Sebut saja     Asem-asem, nasi pecel telor, soto dan  gado-gado. Harganya bervariasi antara Rp 6.000  hingga Rp 10.000.  Minuman yang sediakan juga beragam  Dawet, the, Jeruk dan Tape dan Soda, harga yang dipatok berkisar Rp 6.000.  </p>
<p>Selain tergolong megah, rumah makan ini  juga cukup bersih. Dengan jumlah meja mencapai 10 meja panjang, dapat menampung jumlah pengunjung  hingga 60 orang<br />
 </p>
<p>Lebih enak di Siang Hari</p>
<p>Dari racikan masakan tersebut, Asem-asem ini menjadi sajian unggulan rumah makan ini. “Pengunjung kebanyakan mencari masakan  ini,” kata Bambang, anak tertua dari Sri Rahayu yang kini pengelola restoran ini.</p>
<p>Asem-asem ini sendiri rasanya asam kecut  karena menggunakan blimbing wuluh yang cukup banyak dan sedikit pedas. Dan tak luput  dibumbui asem jawa. Rasanya rame benggeeet.  </p>
<p>Sebenarnya racikan bumbi Asem-asem ini tak ubahnya masakan Garang Asem. Meraciknya dengan rebusan daging sapi yang sudah terpotong-potong kecil. Yang kemudian ditambah cabai merah, cabai hijau, daun salam dan laos. Campur bumbu tumis ke dalam kaldu daging serta buncis, dan tomat hijau. Dan kemudian  masak hingga matang. Yang membedakannya Asem-asem ini mengunakan daging sapi, sedangkan Garang Asem mengunakan ayam kampung</p>
<p>Meski masakan asem-asem ini bisa disantap kapan saja, tapi terasa nikmat masakan asem-asem ini lebih nikmat di siang hari. Udara siang hari sangat sesuai dengan rasa makanan yang didomonasi asem-kecut ini. “Pengunjung bisa makan sekaligus mengeluarkan keringat,” kata  bapak tiga anak ini.</p>
<p>Jam buka rumah makan ini antara jam 08.30 pagi hingga 20.00.  Setiap hari tak kurang menghabiskan 500 porsi asem-asem ludes berpindah ke perut para langanan.  Porsi tersebut memerlukan daging  sapi kurang lebih 10 kg.<br />
 <br />
Bambang tak sendirian untuk melayani pengunjung di rumah makan ini. Bersama karyawannya yang berjumlah 15 orang, Ia melayani  pelanggan yang kebanyakan berasal dari luar kota Demak.  </p>
<p>Beruntung dekat Masjid Demak</p>
<p>RM ini tergolong besar di kota yang dikenal penghasil Buah Blimbing ini.  Luas tanahnya mencapai 80 m2 dan tempat parkinya lumayan luas. Jumlah rumah makan  seperti RM Rahayu ini bisa dihitung dengan jari di kabupatan ini .</p>
<p>RM Rahayu ini pernah pindah selama dua kali. Sebelumnya berada di arah timur Masjid  Agung Demak ke arah Kota kudus,  dan kini berdiri di  arah barat menuju Semarang.</p>
<p>Menurut Bambang, pengelola rumah makan ini dan merupakan anak pertama Sri Rahayu        keberadaan  Lokasi ini sangat tertolong dengan keberadaan masjid ini. Banyak pejabat selepas lawatan untuk berkunjung ke Kabupaten ini ke masjid dan sekaligus mampir mencicipi masakan asem-asem ini. “Setidaknya menjadi promosi gratis,” katanya.</p>
<p>Ia menyebutkan beberapa nama  pejabat dan mantan pejabat yang pernah berkuasa seperti seperti Agung Laksono, Gus Dur, Megawati dan  AS Hikam pernah menyantap  singgah di sini. Bahkan artis beken seperti Maudy Koesnady, Dewi Persik dan Dewi Hughes juga pernah menyantap masakan.  </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=18&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/11/05/yuk-mencicipi-asem-asem-di-demak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencicipi Rawon Setan di  Tebet, Jakarta.</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/10/25/mencicipi-rawon-setan-di-tebet-jakarta/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/10/25/mencicipi-rawon-setan-di-tebet-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 17:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/10/25/mencicipi-rawon-setan-di-tebet-jakarta/</guid>
		<description><![CDATA[Merantau untuk mengadu nasib di negeri orang memang terasa berat. Meredam kerinduan terhadap keluarga dilakukan demi mengais rupiah. Tak hanya itu, sang pandatang  juga berpuasa menyantap makanan masakan asli  dari kampung halaman. Kali ini PELANCON sedikit mengurai masakan asli dari Jawa Timur. Bagi pendatang asal Jawa Timur dipastikan mengenal nasi Nasi Rawon, masakan khas ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=17&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merantau untuk mengadu nasib di negeri orang memang terasa berat. Meredam kerinduan terhadap keluarga dilakukan demi mengais rupiah. Tak hanya itu, sang pandatang  juga berpuasa menyantap makanan masakan asli  dari kampung halaman.</p>
<p>Kali ini PELANCON sedikit mengurai masakan asli dari Jawa Timur. Bagi pendatang asal Jawa Timur dipastikan mengenal nasi Nasi Rawon, masakan khas ini bisa disantap kapan saja, pagi hingga malam hari.</p>
<p>Salah satunya adalah nasi Rawon Setan mbak Endang. Warung yang kini sudah dikelola secara modern dengan mengunakan sistem waralaba sudah mulai bermunculan di Jakarta. Saat ini tercatat terdapat tuju warung yang berlokasi yang berbeda. Sebut saja daerah kelapa gading, pluit, kemang, Kedoya dan Tebet.<br />
 <br />
Yanti Indrianti, pengelola nasi rawon Setan mbak Endang menuturkan bahwa warung yang berlokasi di Tebet ini adalah cabang kedua. Dan baru buka kurang lebih tiga bulan yang lalu. Warung yang pertama ini berada di Pluit, Jakarta Utara sudah dua tahun silam.</p>
<p>Layaknya nasi rawon biasa, Warung Setan  ini berwarna hitam kecoklatan.   Warna ini berasal dari kluwek yang sering dipakai untuk bumbu masak yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna.&#8221;Kluwak ini merupakan bumbu wajib dari masakan  rawon,&#8221; ujar Yanti.</p>
<p>Warung ini menyediakan empat menu utama, rawon campur, rawon pisah dan  rawon spesial sop iga. Selain itu, warung ini juga melayani  nasi rawon campur yang terdiri dari telur daging dan tahu, serta rawon krengsengan yang terdapat tambahan paru dan empal.</p>
<p>Untuk menyantap  rawon setan ini relatif murah. Nasi rawon ini di jual  bervariasi antara Rp 12.000 hingga Rp  25.000.</p>
<p>Warung milik Hero Ghozali, buka setiap hari. Hari biasa, warung yang berada pinggir jalan Dr. Satrio ini buka mulai jam 09.00 hingga 03.00 pagi. Dan khusus bulan puasa mulai jam 10 pagi hingga 04.00 pagi,</p>
<p>Mengelola dua tempat sekaligus, Yanti tidak bekerja sendirian. Sebanyak 30 orang karyawan berkerja di dua tempat berbeda. Mereka dibagi menjadi dua shift. Yanti menceritakan saban hari dua warungnya menghabiskan 80 kg daging sapi, 5 kg empal dan 5kg paru yang habis berpindah ke perut pelanggan.</p>
<p>Warung ini berdiri di tanah seluas sekitar 60 meter2. Meja yang disediakan  sebanyak 20 meja dan mampu menampung sebanyak 150 orang.</p>
<p>BOX : Tak Jual kemenyan</p>
<p>Mendengar nama setan, tentu terlintas di benak kita adalah segala sesuatu yang berbau magis. Misalnya bunga, kemenyan, dupa dan berada di keremangan malam.</p>
<p>Untungnya, Warung Rawon Setan mbak Endang ini tak seperti  yang diduga, kalau tidak maka pelanggan bakalan tak bersedia menyantap masakan warung ini. Selain cukup bersih, puluhan foto artis seperti Rossa, Endin, dan Tukul menghiasi terpasang di berbagi sudut warung.  <br />
 <br />
Disebut setan karena warung ini semula baru buka tengah malam, yakni pukul 23.00 dan tutup pukul 03.00. Warung ini dulu biasa melayani anak muda yang baru pulang dari go skate atau kafe di hotel–hotel di sepanjang Jalan Embong Malang. Seiring dengan waktu,  peminat masakan ini tak hanya di malam hari saja</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=17&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/10/25/mencicipi-rawon-setan-di-tebet-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Goyang Dangdhut sudah masuk Suku Tengger</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/10/01/goyang-dangdhut-sudah-masuk-suku-tengger/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/10/01/goyang-dangdhut-sudah-masuk-suku-tengger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2007 15:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/10/01/goyang-dangdhut-sudah-masuk-suku-tengger/</guid>
		<description><![CDATA[kali ini Sang Pelancong sedikit menceritakan tentang suku Tengger.  Kesempatan untuk mengunjungi Gunung Bromo yang terkenal ini akhirnya tiba jua.  Sebelum masuk daerah kawah bromo, Pelancong melewati salah satu desa ini dimana  salah satu penduduk sedang melakukan hajatan. Dalam rangka meramaikan hajatan yang digelar. Desa Ngadas tepatnya.  Salah satu penduduk tersebut memiliki  hajat  memanggil group dhandhut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=14&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kali ini Sang <font face="Californian FB, serif"><font size="3"><em>Pelancong sedikit menceritakan tentang suku Tengger.  Kesempatan untuk mengunjungi Gunung Bromo yang terkenal ini akhirnya tiba jua.  Sebelum masuk daerah kawah bromo, Pelancong melewati salah satu desa ini dimana  salah satu penduduk sedang melakukan hajatan. Dalam rangka meramaikan hajatan yang digelar. Desa Ngadas tepatnya.  Salah satu penduduk tersebut memiliki  hajat  memanggil group dhandhut untuk menghibur penduduk suku tengger yang terletak di Desa Ngadas. Lagu yang didendangkan tak jauh berbeda dengan alunan nada musik secara umumnya yang kerap di dengar masyarakat kota. Penduduk yang hadirpun mengunakan pakaian yang lazim digunakan Suku Tengger, sarung yang dikalungkan di leher. Dan lagu  Jablay milik  Titi Kamal pun berdendang.</em></font></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;margin-left:0.25in;line-height:150%;font-style:normal;"><font face="Californian FB, serif"><font size="3">Cerita di atas mengambarkan bahwa Suku Tengger saat ini sudah mengalami sedikit perubahan dengan melihat minat terhadap hiburan. Keberadaan listrik yang sudah masuk di Desa Ngadas ini menyebabkan adaya media televisi yang membawa beragam informasi. Suguhan hiburan dengan panggung terbuka yang diselenggarakan pada siang hari dan ramainya pengunjung memperlihatkan kebutuhan untuk mengintip kebudayaan dari luar. </font></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;margin-left:0.25in;line-height:150%;font-style:normal;"><font face="Californian FB, serif"><font size="3">Desa Ngadas berdekatan dengan Desa Wonokerto yang terletak di Kabupaten Probolinggo. Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat “orang Tengger” yang telah menganut Islam. Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah “desa Islam” yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.</font></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;margin-left:0.25in;line-height:150%;font-style:normal;"><font face="Californian FB, serif"><font size="3">Penduduk Wonokerto ini sebagian besar memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto. Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo. </font></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;margin-left:0.25in;line-height:150%;font-style:normal;"><font face="Californian FB, serif"><font size="3">Keduanya berada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Wonokerto adalah desa muslim, semua warganya adalah warga Tengger. Namun desa ini tidak diakui oleh desa-desa Tengger disekitarnya, karena mereka relah menganut agama Islam. Memang di desa ini terjadi proses Islamisasi yang intensif yang disukung oleh pemerintah desa, para ustad dari Probolinggo, dan beberapa guru agama Islam. Dari perangkat desa ini aku mendapatkan beberapa data, diantaranya monografi desa, perdes-perdes yang berisi susunan APBD (anggaran desa), termasuk proses pengembangan agama Islam yang dilakukan oleh perangkat desa. Walau begitu di desa ini terdapat pembangkangan yang dilakukan oleh warganya. Secara personal mereka tetap menjalankan ritual di danyang dan pamujan, walau telah diharamkan oleh kiai setempat. Aku belum sempat menemui mantan dukun di desa ini yang digantikan oleh modin. Sebab dukun yang bersangkutan masih memiliki hajatan. Tokoh lain yang menimbulkan gerakan resistensi adalah mantan kepala desa. Hingga sekarang dia masih menjalankan tradisi tengger, walau lingkungannya telah sangat Islamis.</font></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;margin-left:0.25in;line-height:150%;font-style:normal;"><font face="Californian FB, serif"><font size="3">Pola-pola kecenderungan perilaku antara warga Ngadas dengan Wonokerto dalam memandang bidan dan program kesehatan dari pemerintah, termasuk KB. Ia juga menceritakan mengenai kebijakan Desa Wonokerto yang mulai meninggalkan dukun bayi sebagai pelayan kesehatan masyarakat. Namun upaya ini tidak berjalan di Desa Ngadas, sebab masyarakat desa ini masih menganggap dukun bayi sebagai bagian penting dari proses ke-Tenggeran mereka.</font></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=14&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/10/01/goyang-dangdhut-sudah-masuk-suku-tengger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dekapan Asmara di Kota Pendidikan</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/25/dekapan-asmara-di-kota-pendidikan/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/25/dekapan-asmara-di-kota-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 12:07:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan gue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/09/25/dekapan-asmara-di-kota-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[YOGYAKARTA.  Satu daerah berada di selatan Jawa Tengah  yang identik dengan kota pendidikan. Beragam mahasiswa berasal dari semua penjuru tanah air berlomba untuk menuntut ilmu di kota Gudeg, nama lain Yogyakarta.   Bahkan dari manca negara  tak mau ketinggalan. Lazimnya kota besar lainnya, Yogyakarta memiliki pesona asmara terlarang. Awalnya pusat  wilayah yang menawarkan transaksi tersembunyi ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=13&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>YOGYAKARTA</em>.  Satu daerah berada di selatan Jawa Tengah  yang identik dengan kota pendidikan. Beragam mahasiswa berasal dari semua penjuru tanah air berlomba untuk menuntut ilmu di kota Gudeg, nama lain Yogyakarta.   Bahkan dari manca negara  tak mau ketinggalan.</p>
<p>Lazimnya kota besar lainnya, Yogyakarta memiliki pesona asmara terlarang. Awalnya pusat  wilayah yang menawarkan transaksi tersembunyi ini hanya ada di daerah pasar kembang (Sarkem). Seiring dengan perkembangan Sarkem kini sudah banyak ditinggalkan penghuninya. Sunyi senyap. Kalaupun masih tersisa hanya sebatas transaksi pada strata masyarakat kelas bawah.    </p>
<p>Lantas, berhentikah transaksi terlarang ini di kota yang terkenal dengan buah tangan bernama bakpia ini? Seiring dengan meredupnya pamor Sarkem, transaksi terlarang ini mulai berubah rupa. Sebut saja salon dan tempat pemijat plus mulai menjamur diberbagai penjuru kota, meski belakangan ini juga geliat bisnis ini berkurang karna seringnya razia aparat keamanan.</p>
<p>Namun bagi pemilik naluris bisnis, sex adalah bisnis yang tak ada matinya. Konon pujangga kerap kali mengatakan bahwa keberadaan bisnis syahwat ini juga seiring dengan   adanya dunia ini. Ada benarnya memang!</p>
<p>Di kota Yogyakarta kini  muncul  sebutan “asrama”.  Asrama ini bukan berarti tempat para penimba ilmu untuk sebentar memincingkan mata dari buku dan diktat kuliah. Sebaliknya Asrama ini sebutan rumah yang menawarkan kenikmatan terlarang.</p>
<p>Lokasinya “asrama” tak berada jauh di sekitar Jl. Malioboro.  Setidaknya ada tiga asrama yang siap menampung syahwat terlarang para lelaki pemuja nafsu sesaat ini. Dan letaknya di gang-gang di sekitar Jl. Malioboro tersebut dan tak sampai 10 menit dengan berjalan kaki. Ada juga yang berada di dekat Statisun Kereta Api Tugu.<br />
 <br />
Asrama berbentuk rumah biasa layaknya milik penduduk asli. Sekilas tak jauh berbeda. <br />
Tentu saja masih ada sedikit perbedaan. Asrama ini tetap terang benderang meski sang waktu sudah menujukkan angka 11 malam. Saat  hendak masuk pintu, maka sambutan ramah dari pemilik rumah –sang mucikari- akan menyapa. Lantas tamu akan dibawa menuju ruangan yang cukup lumayan besar yang berisi puluhan wanita muda umur belasan tahun. Tertarik!  jari telunjuk  milik tamu sebagai cara ampuh untuk bisa mengajak salah satu penghuni  untuk berolahraga syahwat sesaat.<br />
 <br />
Asrama melayani layanan non kamar. Artinya tamu hanya boleh membawa penghuni kemana suka.  Sebab Asrama tidak menyediakan layanan paket plus kamar. Tarifnya untuk short time sebesar Rp 300 ribu, dan long time mencapai jutaan rupiah.  </p>
<p>Namun sebelum anda mencoba gairah malam anak yogyakarta ini, ada baiknya anda berfikir bahwa ini hanyalah kenikmatan sesaat. Bagi kalangan beriman yang maish ingat akan dosa, ada baiknya   bahwa informasi ini hanya sekilas berita dari  “ Sang Pelancong” mengunjungi kota Yogyakarta belum lama ini. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=13&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/25/dekapan-asmara-di-kota-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gundukan Tengiri di Menteng</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/07/gundukan-tengiri-di-menteng/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/07/gundukan-tengiri-di-menteng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 21:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan gue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/09/07/gundukan-tengiri-di-menteng/</guid>
		<description><![CDATA[Menteng adalah gudang jajanan kaki lima. Menjelang sore, puluhan gerobak makanan menyiapkan diri di sepanjang Jalan H.O.S. Cokroaminoto. Mau es campur, bubur, sampai nasi gila pun ayo saja. Salah satu pedagang yang hampir selalu didatangi pembeli adalah Siomay Menteng Pak Aris yang berada di depan Bank Lippo. Sebenarnya, gerobak siomay ini milik Endong. Tapi, belakangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=9&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menteng adalah gudang jajanan kaki lima. Menjelang sore, puluhan gerobak makanan menyiapkan diri di sepanjang Jalan H.O.S. Cokroaminoto. Mau es campur, bubur, sampai nasi gila pun ayo saja.</p>
<p>Salah satu pedagang yang hampir selalu didatangi pembeli adalah Siomay Menteng Pak Aris yang berada di depan Bank Lippo. Sebenarnya, gerobak siomay ini milik Endong. Tapi, belakangan pria paro baya ini lebih dikenal dengan sebutan Pak Aris, ketimbang Endong.</p>
<p>Setelah seharian berpuasa, tidak sedikit orang yang memilih berbuka dengan makanan ringan, seperti siomay. Apalagi, penyiapan hidangan ini tak sampai semenit. Sebutir siomay Pak Aris dijual dengan harga Rp 2.000. Ada banyak alternatif isi siomay seperti telur, kentang, pare, kol, tahu, dan siomay biasa. Lalu, ada guyuran bumbu kacang di atasnya.</p>
<p>Sekarang, Endong menjual siomay menggunakan gerobak dorong berukuran 0,5 x 1,5 meter. Jangan kebingungan mencari tempat duduk untuk menyantap siomay. Para pelanggan biasa duduk di mana saja; di sekitar gerobak. Mau menyantap siomay di dalam mobil pun oke-oke saja.</p>
<p>Awal berjualan siomay, pada 1982, Endong berkeliling menggunakan sepeda. Setelah itu, ia mencoba mangkal di Bekasi, Pancoran, dan Sudirman. Namun, sejak 1985, Endong memutuskan untuk bercokol di Menteng saja.</p>
<p>Sejak tiga tahun lalu, Endong sudah tidak mengurusi penjualan siomaynya. Ia menyerahkan pengelolaan gerobak di Menteng ini kepada Ahyat, anaknya, serta Udin, keponakannya.</p>
<p>Kalau di hari biasa, Udin membuka tudung gerobak siomay dari pukul 12.00 sampai 21.00, maka di bulan puasa ia baru buka pada pukul 16.00. Biasanya, gerobak itu ditutup pukul 21.00.</p>
<p>Dalam sehari, Udin harus mengolah sekitar 20 kilogram ikan tengiri, 5 kilogram telur, 5 kilogram kol, dan 10 kilogram tepung untuk diolah menjadi 1.000 butir siomay . Untuk bumbunya, ia menghabiskan 10 kilogram kacang tanah. &#8220;Siomaynya bisa tahan tiga hari, tapi bumbunya cuma sehari,&#8221; ujar Udin.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=9&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/07/gundukan-tengiri-di-menteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ngelaba ke Luar Pulau Jawa</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/ngelaba-ke-luar-pulau-jawa/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/ngelaba-ke-luar-pulau-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 22:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan gue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/ngelaba-ke-luar-pulau-jawa/</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan, para pengembang melihat adanya potensi yang cukup besar untuk berbisnis di luar Jawa. Beberapa pengembang mulai berekspansi. Sebut saja Ciputra yang membangun Citra Garden di daerah Teluk Betung, Lampung dan kompleks The Village of Blessings yang ada di Winangun, Manado. Jangan lupakan pula kiprah pengusaha Hermes Thamrin yang membangun berbagai proyek properti di Medan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=12&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><a href="http://pelancong.files.wordpress.com/2007/09/houses.jpg" title="houses.jpg"><img align="left" src="http://pelancong.files.wordpress.com/2007/09/houses.jpg?w=500" alt="houses.jpg" /></a>Belakangan, para pengembang melihat adanya potensi yang cukup besar untuk berbisnis di luar Jawa. Beberapa pengembang mulai berekspansi. Sebut saja Ciputra yang membangun Citra Garden di daerah Teluk Betung, Lampung dan kompleks The Village of Blessings yang ada di Winangun, Manado.</p>
<p>Jangan lupakan pula kiprah pengusaha Hermes Thamrin yang membangun berbagai proyek properti di Medan. Di kota terbesar ketiga di Indonesia ini, beberapa pengembang juga getol mencari duit. Salah satunya adalah Grup Multatuli yang mendirikan The Royal Residence.</p>
<p>Tak ada asap kalau tak ada api. Gencarnya pengembang membangun di luar Jawa juga lantaran adanya permintaan masyarakat. Tentu permintaan ini tak bakal terwujud kalau masyarakat di luar Jawa itu tak mendapatkan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) yang bisa mendongkrak daya beli mereka.</p>
<p>Maka, perbankan pun mulai gencar menjajakan produk-produk KPR-nya ke luar Jawa. Tak percaya? Cobalah bertanya pada penggede Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja. Wakil Presiden Direktur BCA ini mengatakan sekarang tren KPR memang sudah meluas dan tidak hanya berkutat di Pulau Jawa.</p>
<p>Gandeng pemain properti</p>
<p>BCA bahkan kini sudah mulai mengubah orientasi pasar, dari sebelumnya fokus di Jawa sekarang memperluas pasar kredit perumahan di luar Jawa. &#8220;Banyak KPR BCA yang mengguyur nasabah untuk beli rumah di Batam,&#8221; ujar Jahja. Sayang, ia enggan menyebut berapa duit KPR BCA yang sudah mengguyur luar Jawa.</p>
<p>Cerita yang mirip juga datang dari Bank Mandiri. Hingga pertengahan tahun lalu, Mandiri berhasil menyalurkan KPR sebanyak Rp 7 triliun. Dan bank dengan aset terbesar ini juga mulai mengeker peluang di luar Pulau Jawa. Meski tak begitu jelas jumlahnya, permintaan KPR di luar Jawa sudah mulai meroket. &#8220;Tahun lalu pertumbuhannya sangat signifikan yakni sekitar 70%,&#8221; ujar Direktur Konsumer Bank Mandiri Omar S. Anwar.</p>
<p>Sedangkan saudara sedarah Mandiri, Bank BNI, tahun lalu berhasil menyalurkan kredit lewat selang KPR sebanyak Rp 2,6 triliun. Jumlah ini naik 30% ketimbang tahun 2005. &#8220;Tahun ini kami berharap dapat menyalurkan KPR sebanyak Rp 3,5 triliun,&#8221; jelas Diah Sulianto, General Manager Kredit Perumahan Bank BNI.</p>
<p>Sedangkan untuk luar Jawa, menurut Diah, saban tahun persetujuan KPR-nya terus mengalami peningkatan. Tahun lalu kontribusi KPR dari luar Jawa mencapai 15%. &#8220;Tahun ini kami menargetkan KPR luar Jawa bakal tumbuh 20%,&#8221; ujar Diah. Pesatnya pertumbuhan KPR BNI di luar Jawa dapat kita lihat pada penyaluran di Bali. Tahun lalu, di pula Dewata, bank berlogo angka 46 ini sukses mengucurkan KPR sebesar Rp 170 miliar. Jumlah ini baik sebesar Rp 70 miliar ketimbang tahun 2005.</p>
<p>Menurut Diah, salah satu penyebab tumbuhnya kredit perumahan di luar Jawa adalah menurunnya permintaan KPR di Jawa. Tingginya suku bunga menjadikan nasabah enggan mengambil kredit. Untuk terus meningkatkan bisnis kredit perumahan, Bank BNI akan bekerjasama dengan banyak pengembang dan berbagai agen properti. Saat ini, BNI telah menjalin kerjasama dengan lebih dari 250 pengembang dan agen properti di seluruh Indonesia.</p>
<p>Sebagai pemanis, Bank BNI kini juga mengembangkan konsep one stop housing finance solution. Ini merupakan konsep pembiayaan perumahan secara terpadu, mulai dari pembiayaan pembangunan, pembelian rumah hingga pembiayaan lain yang berkaitan dengan rumah dan keluarga.</p>
<p>Banjir permintaan tapi tetap hati-hati</p>
<p>&#8220;Dengan solusi yang terpadu ini, nasabah dapat memiliki rumah, ruko, apartemen atau kaveling tanah,&#8221; ujar Diah. Di sisi lain, masih menurut Diah, nasabah juga masih dapat memenuhi kebutuhan furniture, kendaraan, rekreasi, biaya pendidikan dan lainnya.</p>
<p>Lain lagi dengan strategi Bank Mandiri. Bank ini memilih untuk mengandalkan kantor cabangnya yang berjumlah 1.000 buah. &#8220;Mereka akan menjadi tool kami di sana,&#8221; ujar Omar.</p>
<p>Kendati antusias menghadapi meningkatnya permintaan, namun perbankan tampaknya juga masih lebih memperhatikan unsur kehati-hatian dalam menyalurkan KPR di luar Jawa. Tengok saja pendapat</p>
<p>Jahja. Menurut dia, meski permintaan KPR membanjir, perbankan perlu memperhatikan lemahnya sita jaminan apabila terjadi kredit macet. &#8220;Belum lagi kalau tidak laku, sangat susah menjualnya,&#8221;kata Jahja.</p>
<p>Omar juga sependapat dengan Jahja. Sebelum memasarkan satu produk KPR, Bank Mandiri biasanya harus memperhatikan berhasil atau tidaknya produk tersebut di satu tempat. &#8220;Artinya, harus berdasarkan pada pertimbangan prospek wilayah ke depan,&#8221; kata Omar.</p>
<p>Kendati banyak pertimbangan, selang kredit ke luar Jawa tentunya harus tetap mengalir kan Pak? Soalnya kalau tetap berkutat di Jawa, kapan saudara-saudara kita yang berdomisili di luar Jawa bisa memiliki rumah?</p>
<p>+++++<br />
Bunga Layu, Produk Baru</p>
<p>Langkah Bank Indonesia (BI) yang terus menurunkan suku bunga acuan alias BI rate mulai terasa dampaknya. Banyak bank yang mulai menurunkan tingkat suku bunganya. Yang sudah mencuri start, salah satunya, adalah Bank Mandiri yang mulai melayukan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sejak Januari silam. Kini bunga KPR Mandiri sebesar 9,9% per tahun pertama. &#8220;Ini kami lakukan agar pembiayaan KPR Mandiri lebih agresif,&#8221; ujar Omar S. Anwar, Direktur Konsumer Bank Mandiri.</p>
<p>Bank Internasional Indonesia (BII) juga tak mau ketinggalan kereta. Menurut Rudy Hamdani, Direktur Konsumer BII sejak bulan lalu bunga KPR BII sudah turun dari 14% menjadi cuma 11%. &#8220;Penurunannya lumayan besar kan,&#8221; ujar Rudy setengah berpromosi.</p>
<p>Hal senada juga terlontar dari Diah Sulianto, General Manager Kredit Perumahan Bank BNI. Sejak akhir bulan lalu, suku bunga KPR BNI sudah layu dari 13,75 % menjadi 12,6% saja.</p>
<p>Di Bank Niaga, penurunan bunga KPR malah sudah berlangsung sejak awal Januari. Menurut Juanita A. Luthan, VP Produk KPR Bank Niaga, pihaknya menurunkan bunga KPR karena kondisi makroekonomi sudah semakin stabil. &#8220;Saat ini bunga yang berlaku cuma 12%, sebelumnya sekitar 14%,&#8221; kata Juanita.</p>
<p>Tentu saja, Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai biangnya penyalur KPR tak mau ketinggalan. Terhitung mulai Februari ini, BTN juga telah menurunkan bunganya 1,25%-1,75%. &#8220;Untuk kredit rumah sederhana sehat bersubsidi, bunga turun dari 16% menjadi 14,74%,&#8221; ujar Kodradi, Direktur Utama BTN.</p>
<p>Turun bunga bukanlah jurus satusatunya bank untuk memekarkan kredit KPR. Nasabah juga bisa menikmati banyak produk baru. Awal Februari lalu, Mandiri mengeluarkan Mandiri Griya dengan suku bunga 9,99 %. Namun, bunga ini hanya berlaku enam bulan pertama. Untuk bulan-bulan selanjutnya akan kembali merangkak ke angka 13,5%.</p>
<p>Mandiri menyediakan plafon kredit minimal Rp 25 juta hingga segede Rp 5 miliar. &#8220;Uang muka minimal 10%,&#8221; kata Omar. Sedang BII mengeluarkan KPR Express lima tahun dengan bunga tawaran bunga flat 12,5% selama 5 tahun.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=12&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/ngelaba-ke-luar-pulau-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pelancong.files.wordpress.com/2007/09/houses.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">houses.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bakaran Domba Rasa Afrika</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/bakaran-domba-rasa-afrika/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/bakaran-domba-rasa-afrika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 21:37:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan gue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/bakaran-domba-rasa-afrika/</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak ragam sate dijual di Jakarta. Sate madura, sate solo, sate padang, sate sapi, sate lilit, dan sebagainya. Namun, selain sate dari pelosok tanah air, ternyata di pelosok Jakarta terselip sate dari seberang samudra. Kedai milik H. Ismail Coulibaly di kawasan Tanahabang ini terkenal dengan nama kedai sate afrika. Maklumlah, H. Ismail berasal dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=8&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada banyak ragam sate dijual di Jakarta. Sate madura, sate solo, sate padang, sate sapi, sate lilit, dan sebagainya. Namun, selain sate dari pelosok tanah air, ternyata di pelosok Jakarta terselip sate dari seberang samudra.</p>
<p>Kedai milik H. Ismail Coulibaly di kawasan Tanahabang ini terkenal dengan nama kedai sate afrika. Maklumlah, H. Ismail berasal dari Mali, Afrika. Di kedainya, Ismail menjual sate domba ala negeri leluhurnya itu.</p>
<p>Untuk mencicipi bakaran daging domba ini, Anda harus menyusuri gang yang terletak antara Museum Tekstil dan kantor Indonesia Power. Warung yang sudah berusia tujuh tahun ini menempati lahan seluas 3 m x 7 m, yang dibatasi pagar dinding setinggi pinggang. Setengah dari lahan digunakan untuk menaruh tungku api, selebihnya ada meja sepanjang tiga meter untuk menampung pembeli. Selain itu, ada dua meja dan empat bangku tambahan di luar pagar pembatas. &#8220;Semua ini hanya muat dua puluh orang,&#8221; kata Herman, pengelola Kedai Sate Afrika.</p>
<p>Saban hari, kedai sate ini menerima pasokan daging domba dari Cipanas. Jumlahnya tiga ekor domba minus kepala dan kulit. Setiap Selasa dan Jumat, Haji Ismail meminta tambahan seekor domba lagi, karena warungnya ramai. &#8220;Umur domba yang kami minta maksimal sembilan bulan,&#8221; ujar Herman. Selain itu, berat maksimal domba dibatasi 20 kg saja, tidak lebih. &#8220;Biar lebih empuk,&#8221; sambungnya. Tiap ekor domba, menurut Herman, bisa menjadi 28 porsi sate afrika.</p>
<p>Sebenarnya, yang dijual di kedai ini bukanlah sate seperti lazimnya. Maklum, kita tidak akan menemukan tusukan bambu di sini. Daging domba hanya dipotong dengan bobot sekitar enam sampai tujuh ons. Tanpa diberi bumbu apa pun, daging itu dibakar sekitar satu jam. Selesai dibakar, barulah daging direbus dalam panci besar selama satu jam juga. &#8220;Proses ini untuk menghilangkan minyak dan mengurangi kolesterol,&#8221; celetuk Herman. Minyak hasil rebusan domba kadang bisa mencapai setengah kilogram banyaknya.</p>
<p>Kecap khusus untuk versi Indonesia</p>
<p>Daging domba dalam panci itulah yang akan dijumpai para pembeli di sini. Setelah pembeli memesan, baru Herman atau rekan lainnya mencacah daging tersebut dan menaruhnya lagi di bakaran. Belum cukup, daging cacahan akan direbus dalam bumbu dan dibakar sekali lagi. &#8220;Lebih enak disajikan pas hangat-hangatnya,&#8221; kata Herman</p>
<p>Nah, melongok proses pemasakan dan penampilannya, Anda pasti bingung, kan, dari mana sebutan sate itu berasal? Konon, menurut Herman, awalnya Haji Ismail menggunakan nama asli hidangan khas Mali ini. Hanya, ternyata banyak pembeli yang tidak bisa mengucapkannya dengan fasih. Itu sebabnya, dagangan Haji Ismail lantas terkenal dengan dua kata yang gampang saja: sate afrika.</p>
<p>Pembeli yang memesan sate domba akan mendapatkan tiga buah piring. Satu piring berisi daging domba siap santap dengan irisan bawang bombay serta bumbu. Piring lain berisi pengiring daging domba, berupa kecap, mustard, dan cabe. Meski resep aslinya tidak mengenal kecap, Haji Ismail tetap menyediakannya demi lidah lokal Indonesia.</p>
<p>Teman untuk menyantap sate afrika bukan nasi atau lontong, melainkan pisang goreng. Harga pisang gorengnya Rp 10.000 per porsi. Pisang goreng ala Afrika ini, tentu saja, berbeda dengan pisang pontianak yang sedang ngetren itu. Kalau pisang pontianak penuh diselimuti tepung dan gula, maka pisang afrika digoreng apa adanya; hanya dibubuhi sedikit garam. Alhasil, rasa manis dan asin pada pisang akan bertemu dengan rasa gurih dari daging domba. Rasanya? Coba saja sendiri.</p>
<p>Haji Ismail memasang harga Rp 35.000 untuk seporsi sate daging domba. Untuk sate jeroan, seperti jantung, hati, atau ginjal, harganya Rp 30.000 seporsi.</p>
<p>Setiap hari, kecuali hari Minggu, Haji Ismail membuka kedainya pukul 07.00. Tapi, jangan buru-buru ngiler mau sarapan sate afrika, karena daging domba baru bisa disantap mulai jam 11.00. Maklumlah, proses pemasakan sate ini memakan waktu tiga jam. Daging domba yang datang akan langsung diolah hari itu juga. Biasanya pukul 14.00 sudah tidak ada daging yang tersisa di meja saji Pak Haji.</p>
<p>Menurut Haji Ismail, ada banyak pelanggan yang enggan datang ke kedainya dan memesan melalui telepon. Meski tidak menetapkan uang muka atau syarat pembayaran, Pak Haji tidak khawatir yang memesan itu cuma iseng atau malah mengemplang. &#8220;Setelah jam 13.00 pesanan akan saya jual sendiri. Toh, tetap laku,&#8221; cetus Pak Haji.</p>
<p>+++++<br />
Dari Sepatu Menjadi Sate</p>
<p>Haji Ismail, pemilik kedai sate afrika, datang ke Indonesia pada tahun 1998. Di kampung halamannya di Mali, Pak Haji berbisnis komponen mobil. Tapi, di Indonesia ia menjajal berdagang sepatu. Haji Ismail kulakan di Mangga Dua, dengan modal Rp 500.000. Suami dari wanita bernama Nur ini menjual sepatu dari hotel ke hotel. Tiap hari paling banter dia berhasil menjual dua pasang sepatu saja. &#8220;Enggak cukup buat hidup di sini,&#8221; kenangnya.</p>
<p>Tapi, Haji Ismail tidak putus asa dan kembali ke Mali. Pria berusia 53 tahun ini memang hanya setahun berdagang sepatu. Selanjutnya, lelaki berjanggut putih ini memutuskan untuk berjualan sate domba. Ia menyadari bahwa sate adalah makanan yang digemari di Indonesia. Namun, &#8220;Di sini belum ada yang berjualan sate domba khas Mali,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dengan modal Rp 5 juta pada tahun 1999, Haji Ismail membuka kedai sate. Modal tersebut habis untuk menyewa tempat dan membeli alat masak. Mulanya ia berdagang sate domba di salah satu sudut bangunan Indonesia Power. Karena lahannya sempit, dua tahun kemudian Haji Ismail pun memutuskan untuk pindah ke lokasinya yang sekarang. &#8220;Parkirnya luas, asap pun enggak masalah,&#8221; kata pengagum Osama bin Laden ini.</p>
<p>Kedai Sate Afrika<br />
Jl. KS Tubun I No. 6, Jakarta<br />
Telp. 0817855881</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=8&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/bakaran-domba-rasa-afrika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aroma Bali di Gunung Sahari</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/aroma-bali-di-gunung-sahari/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/aroma-bali-di-gunung-sahari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 21:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan gue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/aroma-bali-di-gunung-sahari/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia makanan jenis seafood, ada satu nama yang sangat dikenal orang, yakni Jimbaran. Tentu saja hampir semua orang tahu bahwa pantai selatan Bali ini tenar karena jajanan seafood yang memenuhi pesisir pantai. Pasar seafood Jimbaran adalah tempat yang pas untuk bersantap, karena kedai-kedai di situ menyediakan menu laut yang lumayan lengkap. Lebih lagi, sajian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=7&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam dunia makanan jenis seafood, ada satu nama yang sangat dikenal orang, yakni Jimbaran. Tentu saja hampir semua orang tahu bahwa pantai selatan Bali ini tenar karena jajanan seafood yang memenuhi pesisir pantai. Pasar seafood Jimbaran adalah tempat yang pas untuk bersantap, karena kedai-kedai di situ menyediakan menu laut yang lumayan lengkap. Lebih lagi, sajian itu dinikmati di tepian pantai, sembari menghirup udara laut.</p>
<p>Tak aneh jika banyak orang yang selalu ingin kembali ke Jimbaran. Hal itulah yang membikin Steven Moe memboyong nama Bali Jimbaran ke Gunung Sahari, Jakarta. Lokasi ini bukanlah tepian pantai, melainkan jalanan yang ramai. Tampaknya, pemandangan kemacetan dan riuh rendahnya kawasan niaga Mangga Dua di seberang Bali Jimbaran tak mampu menyurutkan keinginan orang mencicipi sepotong Bali di Gunung Sahari.</p>
<p>Bali Jimbaran Gunung Sahari milik Steven Moe ini gampang dicari. Pertama, karena sepotong jalan ini sudah tenar sebagai salah satu pusat seafood di ibu kota. Selain Bali Jimbaran, di sini juga berdiri Sarang Kepiting dan Indah Keramik. Kedua, Steven memajang baliho besar berwarna merah dengan huruf-huruf kuning bertuliskan Bali Jimbaran</p>
<p>Kedai ini menempati bangunan dua lantai seluas 20 m x 10 m. Temboknya berupa batu bata tanpa plester dengan kursi terbuat dari kayu. Kursi dan meja makan memenuhi hampir seluruh ruangan, dari emperan sampai lantai dua. &#8220;Kedai ini bisa muat 250 orang pengunjung,&#8221; ujar Zuhril Musyida, Manajer Bali Jimbaran.</p>
<p>Melongok menunya, Bali Jimbaran menawarkan beragam olahan seafood, persis seperti kedai seafood lain. Hanya, mereka menjual olahan kepiting yang unik. Ini adalah kepiting yang dibakar dengan saus khas Jimbaran. Namanya: Kepiting Bakar Jimbaran.</p>
<p>Zuhril menyebutkan beberapa bumbu yang dicampur menjadi saus tersebut, yakni rempah-rempah, bawang, lada, tomat, dan merica. Saus tersebut lantas dibalurkan ke tubuh kepiting yang ukurannya antara tiga sampai lima ons seekor. &#8220;Tiap hari kami bisa menghabiskan 100 ekor kepiting,&#8221; ujar Zuhril. Harga kepiting jantan Rp 8.000 per ons dan kepiting telur dibanderol Rp 9.000 per ons.</p>
<p>Ikan lodi yang paling mahal</p>
<p>Selain kepiting, ada beragam jenis ikan yang ditawarkan. Sebut saja baronang, kuwe, bawal, kerapu, lodi, ayam-ayam, udang, dan cumi. Menu yang paling banyak dipesan adalah Baronang Bakar Jimbaran dan Kuwe Bakar Jimbaran. Keduanya diolah dengan sambal khas Jimbaran yang menjadi andalan kedai ini.</p>
<p>Terselip pula menu non-seafood seperti gurame, ayam, dan bebek bagi mereka yang tidak doyan atau alergi makanan laut. Tentu saja, olahannya tidak berbeda dengan kedai lain, misalnya saus padang, lada hitam, bakar kecap, dan sebagainya.</p>
<p>Demi membawa aroma Bali ke kedai ini, Bali Jimbaran menggunakan wadah makan dari anyaman bambu yang dilapisi daun pisang. Biasanya, selain memesan seafood, cah kangkung dan sambal terasi menjadi menu pengiring santapan pengunjung. &#8220;Tanpa keduanya, memang jadi kurang sreg,&#8221; cetus Zuhril.</p>
<p>Cara pemesanan di kedai ini juga hampir sama dengan kedai seafood pada umumnya. Awalnya, pengunjung ditawari cara pengolahan seafood: apakah ingin dibakar, direbus, atau steam. Selanjutnya, pemesan bisa memilih sendiri seafood yang tersedia di bagian depan kedai. Meski tidak berada di tepi laut, menurut Zuhril, Bali Jimbaran ini selalu mengolah seafood yang masih segar dan hidup. Itu sebabnya, mereka kerap kesulitan pasokan ketika cuaca laut memburuk. &#8220;Ikan jadi sulit didapat,&#8221; katanya.</p>
<p>Setelah ditimbang, barulah seafood diolah sesuai pesanan. Kita bisa melihat betapa hebohnya suasana di tempat pembakaran seafood. Asapnya pun meluber ke mana-mana, sampai ke dalam kedai. Tapi, pembeli tak perlu terlalu lama menunggu pesanannya siap. &#8220;Kurang lebih lima belas menit, sudah akan tersedia di meja,&#8221; celetuk Zuhril.</p>
<p>Harga olahan ikan di kedai ini adalah sekitar Rp 4.500 sampai Rp 6.000 per ons. Tapi, ada satu jenis ikan yang dipasangi harga Rp 12.000 per ons, yakni ikan lodi. Adapun harga masakan udang dan cumi berkisar Rp 20.000 sampai Rp 27.000 per porsi.</p>
<p>+++++<br />
Hoki dari Bali</p>
<p>Jimbaran sudah terkenal dengan deretan kedai seafoodnya. Hal itulah yang mengilhami Steven Moe bersama dua orang rekannya membawa sepotong Jimbaran ke Jakarta. Padahal, menurut Steven, dia sendiri bukanlah penggemar berat santapan seafood. Namun, naluri bisnis juga yang bicara, sebab penghuni Jakarta memang terkenal sebagai penyuka seafood.</p>
<p>Pulang dari berlibur di Bali tahun 1999, Steven dan kedua temannya mendirikan Bali Jimbaran, Ikan Bakar &amp; Fresh Seafood di Muara Karang. Mereka sengaja memilih lokasi di Muara Karang yang merupakan pasar seafood besar di Jakarta. Menurut Steven, waktu itu mereka menanamkan modal sekitar Rp 40 juta. &#8220;Duit itu, selain untuk operasional, juga untuk sewa tempat,&#8221; kenangnya.</p>
<p>Steven mengaku, tidak semata-mata mengusung baliho Bali Jimbaran ke ibukota. Ia juga meniru bumbu dan cara mengolah seafood di Jimbaran ke kedainya itu. Agar menghasilkan rasa yang persis induknya di Bali, Steven merekrut salah satu juru masak dari Jimbaran ke kedainya.</p>
<p>Ternyata banyak juga orang yang penasaran dan ingin mencicipi olahan Bali Jimbaran ini. Alhasil, pada tahun 2001, Steven membuka cabang baru di Muara Karang. Setahun kemudian menyusul kedai di Juanda. Namun, berikutnya, Steven harus menutup salah satu dari dua kedai Bali Jimbaran di Muara Karang. &#8220;Karena kurang prospektif dan banyak saingan, maka saya tutup,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Adapun kedai Bali Jimbaran di Gunung Sahari baru buka Januari 2006. Di sini ia mempekerjakan 40 karyawan, dan kedainya terbilang ramai. Memiliki tiga kedai tidak membuat Steven duduk ongkang-ongkang kaki. Ia selalu berkeliling ke tiap kedai. &#8220;Salah satu kesukaan saya adalah memilih ikan yang segar dan layak dimakan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Bali Jimbaran<br />
Jl. Gunung Sahari Ancol No. 6A, Jakarta Utara<br />
Telp. (021) 64415119, 6415120</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=7&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/aroma-bali-di-gunung-sahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asem Pedas Memanjakan Lidah</title>
		<link>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/asem-pedas-memanjakan-lidah/</link>
		<comments>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/asem-pedas-memanjakan-lidah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 21:34:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nuraguss</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan gue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/asem-pedas-memanjakan-lidah/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar mengenai Kota Kudus? Bisa jadi rokok kretek, soto kudus, dan jenang kudus langsung berebut muncul dalam ingatan. Namun, ketika sedang berada di kota kecil sekitar 55 kilometer arah timur Semarang ini, rugi rasanya kalau tidak mencicipi menu garang asem. Istilah garang asem ini terdiri dari dua kata, yakni [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=6&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar mengenai Kota Kudus? Bisa jadi rokok kretek, soto kudus, dan jenang kudus langsung berebut muncul dalam ingatan. Namun, ketika sedang berada di kota kecil sekitar 55 kilometer arah timur Semarang ini, rugi rasanya kalau tidak mencicipi menu garang asem.<br />
Istilah garang asem ini terdiri dari dua kata, yakni garang yang berarti pedas dan asem yang merupakan campuran rasa kecut dan manis. Biasanya, orang mengolah ayam untuk sajian garang asem. Tapi, ada pula garang asem yang dibikin dari daging sapi.</p>
<p>Nah, di Kudus ada kedai yang terkenal dengan garang asem ayamnya. Nama kedainya Rumah Makan Sari Rasa, milik H. Ri&#8217;fan. Inilah kedai pertama yang menjual garang asem di Kota Kretek. Lokasinya sekitar 600 meter dari pusat kota. Kalau melihat menu di situ, rumah makan yang berada di seberang Yayasan Jamaah Haji Kudus ini menyediakan deretan menu lain, seperti soto kudus, nasi rames, dan opor ayam. Tapi, garang asemlah yang merebut hati banyak orang.</p>
<p>Menurut Yully, anak pertama H. Ri&#8217;fan yang juga pengelola kedai ini, sebelum menyajikan menu garang asem, Sari Rasa tidaklah seramai sekarang. Bahkan, tak jarang kedai mereka sepi. Tentu saja, hal itu berbeda dengan sekarang, ketika pembeli menyerbu garang asem mereka.</p>
<p>Sari Rasa menempati lahan seluas 100 m2, tapi kedainya sendiri justru tak terlalu besar. Di dalamnya terdapat delapan meja dan kursi panjang. Kapasitas kedainya paling cuma muat 60 orang.</p>
<p>Meski kebanyakan pengunjung langsung datang dan membeli, tak jarang mereka harus memesan dulu melalui telepon. Pasalnya, garang asem Sari Rasa yang baru siap dihidangkan setelah pukul 10.00 ini kerap sudah tandas sebelum magrib. Padahal, Sari Rasa buka sampai pukul 20.00.</p>
<p>Sedapnya aroma daun muda</p>
<p>Garang asem identik dengan daun pisang dan belimbing wuluh (belimbing sayur). Mula-mula, si juru masak memborehi ayam yang sudah dipotong-potong dengan bumbu dapur, lantas mengimbuhi pakai belimbing wuluh dan tomat. Selanjutnya, ia mengukus ayam dalam bungkusan daun tersebut selama satu sampai satu setengah jam. Ketika matang, merebaklah aroma daun pisang yang harum. Makanya, menurut Yully, Sari Rasa berusaha memilih daun pisang yang masih muda. &#8220;Daun muda bisa lebih beraroma,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Yuli menuturkan, garang asem ini lebih lezat jika kita makan hangat-hangat kuku. Karena itulah, selepas matang, kukusan garam asem dipindahkan ke kedai. Garang asem akan tetap nongkrong di atas kompor dengan api kecil. &#8220;Memang lebih enak kalau makannya pas siang hari,&#8221; ujarnya. Paduan pedas dan asam akan menyegarkan di tengah terik sinar matahari.</p>
<p>Kedai Sari Rasa menawarkan dua macam olahan garang asem, yakni daging ayam dan jeroan ayam. Namun, garang asem daging ayamlah yang banyak diminta orang. &#8220;Katanya, daging lebih terasa rasanya asem manisnya,&#8221; kata Yully.</p>
<p>Saban hari Yully membuat sekitar 700 hingga 800 bungkus garang asem. Untuk itu, menurut Yully, ia membutuhkan 200 ekor ayam. Ketika akhir pekan dan musim libur, kebutuhan ayam mencapai 250 ekor sehari.</p>
<p>Pelanggan Sari Rasa bukan hanya penghuni Kudus, melainkan juga orang dari luar kota. Uniknya, Yully bilang, ayahnya mendapat ide berjualan garang asem setelah mencicipi hidangan serupa di Rumah Makan Raharjo, Purwodadi. Untuk mendapatkan rasa garang asem yang seperti sekarang, ibunya mengotak-atik resep selama setahun. Nah, garang asem Sari Rasa ini agak berbeda karena menggunakan santan. &#8220;Lain tempat, kan, resepnya lain,&#8221; kilah Yully.</p>
<p>Supaya lebih sip, tutur Yully, Sari Rasa menggunakan ayam kampung. Itu pun yang usianya sembilan bulan. &#8220;Supaya dagingnya empuk dan gurih,&#8221; ungkap Yully yang menjual garang asem dengan harga Rp 13.000 sebungkus.</p>
<p>+++++<br />
24 Jam di Kota Kretek</p>
<p>Kalau Jogja terkenal dengan gudegnya, Palembang dengan pempeknya, tak bisa dipungkiri jika Kudus kondang dengan sotonya. Namun, perut bisa menolak keras-keras. Selain soto, jenang, dan garang asem, Kudus punya sederet makanan yang sayang dilewatkan.</p>
<p>Wisata kuliner Kudus bisa dimulai pada pukul 05.00 dengan sarapan lenthok. Ini adalah semacam ketupat dengan sayur santan serta tahu. Harganya Rp 2.500 per porsi. Ada ratusan pedagang yang menjual makanan ini. Meski tersebar seantero Kudus, pusat lenthok ada di daerah Kecamatan Tanjung, tak jauh dari Terminal Kudus ke arah Purwodadi. Makanya lazim disebut lenthok tanjung.</p>
<p>Siang hari, mulai pukul 11.00, makanan yang layak disantap adalah soto kudus. Jumlahnya pun puluhan. Awalnya yang populer adalah Soto Pak Denuh. Beberapa tahun silam, warung soto kudus muncul bak jamur di musim hujan. Ada Soto Bagoeng dan Soto Gareng. Harga per porsi berkisar Rp 4.000 hingga Rp 5.000.</p>
<p>Menjelang malam hari hingga dini hari, puluhan warung kakilima akan bermunculan. Dengan gerobak dorong dan diterangi lampu petromaks, warung berderet-deret sepanjang jalan. Lokasi utamanya di Jalan Muria Kudus dan Pasar Kliwon. Menu utama yang tersedia adalah lontong tahu campur goreng. Jangan harap bisa duduk nyaman layaknya restoran, karena rata-rata pedagangnya menyediakan tikar untuk lesehan.</p>
<p>+++++<br />
Tak Hoki di Kota Lain</p>
<p>H. Ri&#8217;fan, pemilik RM Sari Rasa, sebenarnya tidak asing dengan bisnis makanan. Dimulai ketika ibunya, Sumiyah, mendirikan warung makan. Semua anak Sumiyah lantas melakukan hal yang sama. Meski Sari Rasa ini sudah berdiri sejak 1976 silam, tapi menu garang asem baru muncul tahun 1986.</p>
<p>Sari Rasa ini memiliki dua cabang, yang berdiri sejak empat tahun silam. Yakni, di Klaling-Pati dan Karanganyar-Demak. Dibandingkan dengan kedai pusatnya, kedua kedai tersebut jauh lebih besar. Sayang, setahun silam keduanya sudah ditutup. &#8220;Selain pengunjung kurang, pengelola tetapnya juga tidak ada,&#8221; kata Yully, anak pertama sekaligus pengelola Sari Rasa, Kudus.</p>
<p>RM Sari Rasa<br />
Jl. Agil Kusumadja 20, Jati Kulon, Kudus<br />
Telp. (0291) 442218</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pelancong.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pelancong.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelancong.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelancong.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelancong.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelancong.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelancong.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelancong.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelancong.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelancong.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelancong.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelancong.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelancong.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelancong.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelancong.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelancong.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelancong.wordpress.com&amp;blog=1645875&amp;post=6&amp;subd=pelancong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelancong.wordpress.com/2007/09/04/asem-pedas-memanjakan-lidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c984af4a36b25defafca7519116b998c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nuraguss</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
