TEGAL. Kurang afdhol mengudap kuliner tusukan sate daging kambing apabila tak menyebut Kota Tegal. Sebab, aroma bakaran dagingnya memang menjadi menu andalan kota pesisir Pantai Utara Jawa ini.
Kota besar macam Jakarta tentu saja menyediakan olahan sate asal Tegal. Namun, soal rasa tentu berbeda apabila secara khusus memburu lezatnya bakaran sate kambing di kota Bahari ini.
Mencari warung olahan daging kambing di Tegal sangatlah mudah. Hampir semua warung menyediakannya, jumlahnya pun mencapai puluhan.
Pusat menu ini di daerah Debong Lor, Tegal, ini nama asli dari kelurahan. Namun daerah ini lebhi kesohor dengan sebutan Tirus. Tirus ini sendiri awalnya adalah nama pengusaha Belanda yang menguasai komplek seluas 30 ha. (Baca ; Box)
Lokasi kompleks Tirus hanya berjarak 4 km dari pusat kota Tegal. Puluhan penjual sate bermukim di daerah ini, dan letaknya satu sama yang lain hanya selemparan batu.
Salah satu warung sate yang kesohor adalah milik Warung Makan Sate Tirus Sakya. Sakya sendiri adalah pemilik warung tersebut dan kini berganti nama menjadi Yahya setelah kepulangannya dalam Ibadah Haji tahun 1997. Warung ini terletak di Jl. Kapten Soedibyo No. 5 Tegal.
Balibu (Bawah Lima Bulan)
Pria yang kini berusia 75 tahun adalah sebagai pelopor penjual sate di Komplek Tirus. Awalnya, Sakya tak berniat membuka warung sate kambing tapi warung tegal (Warteg) pada tahun 1980. “Sate kambing hanya sampingan,’ kata Shobirin, anak ke enam H. Yahya, yang kini mengelola warung pertama yang dirintis sang bapak.
Tak disangka, racikan sate kambing malah laku keras. Hal ini membuat H. Yahya memutuskan hanya menyediakan masakan daging kambing pada tahun 1985. Sop, gulai dan asem-asem adalah menu utama.
Kemashuran warung sate ini kemudian akhirnya membuat pria yang kini berumur 75 tahun mewariskan resep kepada delapan orang anaknya. Semuanya berjualan sate kambing Dan tercatat memilki sembilan warung, termasuk milik sang H Yahya.
Warung milik H. Yahya ini terbilang sederhana. Tercatat hanya ada tujuh kursi panjang yang mampu menampung pengunjung sebanyak 50 orang. Luas bangunan paling banter hanya 45 m2, sedangkan kondisi bangunan cukup tua dan belum ada renovasi sejak berdiri tahun 1980. ” Kami ingin mempertahankan ciri khas ini,” kata Shobirin.
Jam buka warung ini dari pukul 8 pagi hingga 10 malam. Guna memenuhi permintaan, setiap hari tak kurang dari tiga hingga empat ekor kambing yang diolah menjadi sekitar 600 hingga 800 tusuk sate.
Shobirin mengatakan kambing masih muda yang menjadi santapan para penyuka daging kambing. Harga per ekor pun di patok maksimal Rp 300 ribu per ekor. “Maksimal berumur lima bulan atau Bawah lima bulan (Balibu),” katanya.
Soal rasa, tentu saja berbeda. Daging kambing muda sangat gurih, sedikit manis dan tak kenyal alias lembut di makan. Selain itu, ciri khas sate ini dibakar setengah matang.
Satu porsi sate kambing yang berisi 10 tusuk, plus bumbu kecap manis yang dihidangkan dengan bawang merah, tomat dan cabe hijau. Harganya cukup murah Rp 13 ribu, sedangkan menu lainnya seperti gulai dan sop seharga Rp 8 ribu
Menyantap sate di Tegal tak akan lengkap juga tak menyeruput teh poci. Minuman ni disajikan dengan poci yang terbuat dari tanah merah dan untuk pemanis adalah gula batu. Apabila keduanya disantap hangat-hangat kuku, klop.
Tirus : Komplek Warisan Hindia Belanda
Ketenaran warung sate Tirus sudah menjadi rahasia umum. Padahal, nama kelurahan daerah ini adalah Debong Lor, sedangkan Tirus sendiri nama orang.
Muhammad Syari’i, mantan persiunan Brimob yang berpangkat terakhir Kapten ini menuturkan awalnya lokasi ini dimiliki oleh Van Tirus, pengusaha kaya yang berasal Belanda ini memilki lokasi ini sejak tahun 1887 hingga 1913. “Van Tirus memiki hak guna usaha tanah lebih dari 30 Ha,” kata pria berusia 71 tahun ini.
Awalnya, Van Tirus mengunakan tanah ini untuk lokasi perkebunan seperti Jagung dan Salak, tapi tak dijinkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memperpanjang kontrak pada tahun 1913. Tanah ini selanjutnya digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sendiri hingga kemerdekaan RI tahun 1945.
Pemerintah RI mulai menfungsikan tanah tersebut untuk perumahan Brimob pada tahun 1964. Komplek ini diresmikan oleh Suwarno, Komandan Resimen 3 Brimo Jawa Tengah.
Kini bekas rumah Van Tirus sudah berubah fungsi. Dengan sedikit perombangkan tak menghilangkan keaslian rumah ini, oleh masyarakat setempat digunakan sebagai Masjid dengan nama Nurul Iman. “Mulai berfungsi pada tahun 1993,” kata bapak sepuluh anak yang pensiun sejak tahun 1990 ini.


