Kali ini Pelancong ingin mengajak mengudap masakan di kampung halaman. Kabupaten DEMAK. Mendengar nama daerah Kota Demak, pasti daerah ini terkenal dengan Masjid Agungnya. Bila sesekali singgah di kabupaten pesisir utara Jawa ini jangan lupakan Rumah Makan Rahayu.
Rumah makan (RM) ini menghuni bangunan yang berada di Jalan protokol Sultan Patah 41 Kota Demak. Dan letaknya hanya selemparan batu dari Masjid Agung Demak dari arah Semarang. Mencarinya tak begitu sulit.
Nama Rahayu ini diambil dari nama pemilik RM ini, Sri Rahayu. Pertama kali Sri Rahayu mendirikan rumah makan ini tahun 1965 berada di daerah Pecinan (Kawasan orang Cina), sebelah timur Masjid Demak ke arah kudus. Dan mulai pindah di lokasi yang saat ini ditempatinya sejak tahun 1990.
Sejak tahun 1995, Sri Rahayu yang kini berusia 77 tahun tak lagi menanggani operasional RM ini. Semua aktifitas kini beralih pada pada Bambang, anak tertua dari perkawinannnya dengan Biso Mukti, yang kini sudah meninggal.
Layaknya rumah makan biasa, masakan yang disediakan bermacam-macam. Sebut saja Asem-asem, nasi pecel telor, soto dan gado-gado. Harganya bervariasi antara Rp 6.000 hingga Rp 10.000. Minuman yang sediakan juga beragam Dawet, the, Jeruk dan Tape dan Soda, harga yang dipatok berkisar Rp 6.000.
Selain tergolong megah, rumah makan ini juga cukup bersih. Dengan jumlah meja mencapai 10 meja panjang, dapat menampung jumlah pengunjung hingga 60 orang
Lebih enak di Siang Hari
Dari racikan masakan tersebut, Asem-asem ini menjadi sajian unggulan rumah makan ini. “Pengunjung kebanyakan mencari masakan ini,” kata Bambang, anak tertua dari Sri Rahayu yang kini pengelola restoran ini.
Asem-asem ini sendiri rasanya asam kecut karena menggunakan blimbing wuluh yang cukup banyak dan sedikit pedas. Dan tak luput dibumbui asem jawa. Rasanya rame benggeeet.
Sebenarnya racikan bumbi Asem-asem ini tak ubahnya masakan Garang Asem. Meraciknya dengan rebusan daging sapi yang sudah terpotong-potong kecil. Yang kemudian ditambah cabai merah, cabai hijau, daun salam dan laos. Campur bumbu tumis ke dalam kaldu daging serta buncis, dan tomat hijau. Dan kemudian masak hingga matang. Yang membedakannya Asem-asem ini mengunakan daging sapi, sedangkan Garang Asem mengunakan ayam kampung
Meski masakan asem-asem ini bisa disantap kapan saja, tapi terasa nikmat masakan asem-asem ini lebih nikmat di siang hari. Udara siang hari sangat sesuai dengan rasa makanan yang didomonasi asem-kecut ini. “Pengunjung bisa makan sekaligus mengeluarkan keringat,” kata bapak tiga anak ini.
Jam buka rumah makan ini antara jam 08.30 pagi hingga 20.00. Setiap hari tak kurang menghabiskan 500 porsi asem-asem ludes berpindah ke perut para langanan. Porsi tersebut memerlukan daging sapi kurang lebih 10 kg.
Bambang tak sendirian untuk melayani pengunjung di rumah makan ini. Bersama karyawannya yang berjumlah 15 orang, Ia melayani pelanggan yang kebanyakan berasal dari luar kota Demak.
Beruntung dekat Masjid Demak
RM ini tergolong besar di kota yang dikenal penghasil Buah Blimbing ini. Luas tanahnya mencapai 80 m2 dan tempat parkinya lumayan luas. Jumlah rumah makan seperti RM Rahayu ini bisa dihitung dengan jari di kabupatan ini .
RM Rahayu ini pernah pindah selama dua kali. Sebelumnya berada di arah timur Masjid Agung Demak ke arah Kota kudus, dan kini berdiri di arah barat menuju Semarang.
Menurut Bambang, pengelola rumah makan ini dan merupakan anak pertama Sri Rahayu keberadaan Lokasi ini sangat tertolong dengan keberadaan masjid ini. Banyak pejabat selepas lawatan untuk berkunjung ke Kabupaten ini ke masjid dan sekaligus mampir mencicipi masakan asem-asem ini. “Setidaknya menjadi promosi gratis,” katanya.
Ia menyebutkan beberapa nama pejabat dan mantan pejabat yang pernah berkuasa seperti seperti Agung Laksono, Gus Dur, Megawati dan AS Hikam pernah menyantap singgah di sini. Bahkan artis beken seperti Maudy Koesnady, Dewi Persik dan Dewi Hughes juga pernah menyantap masakan.


