kali ini Sang Pelancong sedikit menceritakan tentang suku Tengger. Kesempatan untuk mengunjungi Gunung Bromo yang terkenal ini akhirnya tiba jua. Sebelum masuk daerah kawah bromo, Pelancong melewati salah satu desa ini dimana salah satu penduduk sedang melakukan hajatan. Dalam rangka meramaikan hajatan yang digelar. Desa Ngadas tepatnya. Salah satu penduduk tersebut memiliki hajat memanggil group dhandhut untuk menghibur penduduk suku tengger yang terletak di Desa Ngadas. Lagu yang didendangkan tak jauh berbeda dengan alunan nada musik secara umumnya yang kerap di dengar masyarakat kota. Penduduk yang hadirpun mengunakan pakaian yang lazim digunakan Suku Tengger, sarung yang dikalungkan di leher. Dan lagu Jablay milik Titi Kamal pun berdendang.
Cerita di atas mengambarkan bahwa Suku Tengger saat ini sudah mengalami sedikit perubahan dengan melihat minat terhadap hiburan. Keberadaan listrik yang sudah masuk di Desa Ngadas ini menyebabkan adaya media televisi yang membawa beragam informasi. Suguhan hiburan dengan panggung terbuka yang diselenggarakan pada siang hari dan ramainya pengunjung memperlihatkan kebutuhan untuk mengintip kebudayaan dari luar.
Desa Ngadas berdekatan dengan Desa Wonokerto yang terletak di Kabupaten Probolinggo. Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat “orang Tengger” yang telah menganut Islam. Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah “desa Islam” yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.
Penduduk Wonokerto ini sebagian besar memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto. Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.
Keduanya berada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Wonokerto adalah desa muslim, semua warganya adalah warga Tengger. Namun desa ini tidak diakui oleh desa-desa Tengger disekitarnya, karena mereka relah menganut agama Islam. Memang di desa ini terjadi proses Islamisasi yang intensif yang disukung oleh pemerintah desa, para ustad dari Probolinggo, dan beberapa guru agama Islam. Dari perangkat desa ini aku mendapatkan beberapa data, diantaranya monografi desa, perdes-perdes yang berisi susunan APBD (anggaran desa), termasuk proses pengembangan agama Islam yang dilakukan oleh perangkat desa. Walau begitu di desa ini terdapat pembangkangan yang dilakukan oleh warganya. Secara personal mereka tetap menjalankan ritual di danyang dan pamujan, walau telah diharamkan oleh kiai setempat. Aku belum sempat menemui mantan dukun di desa ini yang digantikan oleh modin. Sebab dukun yang bersangkutan masih memiliki hajatan. Tokoh lain yang menimbulkan gerakan resistensi adalah mantan kepala desa. Hingga sekarang dia masih menjalankan tradisi tengger, walau lingkungannya telah sangat Islamis.
Pola-pola kecenderungan perilaku antara warga Ngadas dengan Wonokerto dalam memandang bidan dan program kesehatan dari pemerintah, termasuk KB. Ia juga menceritakan mengenai kebijakan Desa Wonokerto yang mulai meninggalkan dukun bayi sebagai pelayan kesehatan masyarakat. Namun upaya ini tidak berjalan di Desa Ngadas, sebab masyarakat desa ini masih menganggap dukun bayi sebagai bagian penting dari proses ke-Tenggeran mereka.


