Belakangan, para pengembang melihat adanya potensi yang cukup besar untuk berbisnis di luar Jawa. Beberapa pengembang mulai berekspansi. Sebut saja Ciputra yang membangun Citra Garden di daerah Teluk Betung, Lampung dan kompleks The Village of Blessings yang ada di Winangun, Manado.
Jangan lupakan pula kiprah pengusaha Hermes Thamrin yang membangun berbagai proyek properti di Medan. Di kota terbesar ketiga di Indonesia ini, beberapa pengembang juga getol mencari duit. Salah satunya adalah Grup Multatuli yang mendirikan The Royal Residence.
Tak ada asap kalau tak ada api. Gencarnya pengembang membangun di luar Jawa juga lantaran adanya permintaan masyarakat. Tentu permintaan ini tak bakal terwujud kalau masyarakat di luar Jawa itu tak mendapatkan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) yang bisa mendongkrak daya beli mereka.
Maka, perbankan pun mulai gencar menjajakan produk-produk KPR-nya ke luar Jawa. Tak percaya? Cobalah bertanya pada penggede Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja. Wakil Presiden Direktur BCA ini mengatakan sekarang tren KPR memang sudah meluas dan tidak hanya berkutat di Pulau Jawa.
Gandeng pemain properti
BCA bahkan kini sudah mulai mengubah orientasi pasar, dari sebelumnya fokus di Jawa sekarang memperluas pasar kredit perumahan di luar Jawa. “Banyak KPR BCA yang mengguyur nasabah untuk beli rumah di Batam,” ujar Jahja. Sayang, ia enggan menyebut berapa duit KPR BCA yang sudah mengguyur luar Jawa.
Cerita yang mirip juga datang dari Bank Mandiri. Hingga pertengahan tahun lalu, Mandiri berhasil menyalurkan KPR sebanyak Rp 7 triliun. Dan bank dengan aset terbesar ini juga mulai mengeker peluang di luar Pulau Jawa. Meski tak begitu jelas jumlahnya, permintaan KPR di luar Jawa sudah mulai meroket. “Tahun lalu pertumbuhannya sangat signifikan yakni sekitar 70%,” ujar Direktur Konsumer Bank Mandiri Omar S. Anwar.
Sedangkan saudara sedarah Mandiri, Bank BNI, tahun lalu berhasil menyalurkan kredit lewat selang KPR sebanyak Rp 2,6 triliun. Jumlah ini naik 30% ketimbang tahun 2005. “Tahun ini kami berharap dapat menyalurkan KPR sebanyak Rp 3,5 triliun,” jelas Diah Sulianto, General Manager Kredit Perumahan Bank BNI.
Sedangkan untuk luar Jawa, menurut Diah, saban tahun persetujuan KPR-nya terus mengalami peningkatan. Tahun lalu kontribusi KPR dari luar Jawa mencapai 15%. “Tahun ini kami menargetkan KPR luar Jawa bakal tumbuh 20%,” ujar Diah. Pesatnya pertumbuhan KPR BNI di luar Jawa dapat kita lihat pada penyaluran di Bali. Tahun lalu, di pula Dewata, bank berlogo angka 46 ini sukses mengucurkan KPR sebesar Rp 170 miliar. Jumlah ini baik sebesar Rp 70 miliar ketimbang tahun 2005.
Menurut Diah, salah satu penyebab tumbuhnya kredit perumahan di luar Jawa adalah menurunnya permintaan KPR di Jawa. Tingginya suku bunga menjadikan nasabah enggan mengambil kredit. Untuk terus meningkatkan bisnis kredit perumahan, Bank BNI akan bekerjasama dengan banyak pengembang dan berbagai agen properti. Saat ini, BNI telah menjalin kerjasama dengan lebih dari 250 pengembang dan agen properti di seluruh Indonesia.
Sebagai pemanis, Bank BNI kini juga mengembangkan konsep one stop housing finance solution. Ini merupakan konsep pembiayaan perumahan secara terpadu, mulai dari pembiayaan pembangunan, pembelian rumah hingga pembiayaan lain yang berkaitan dengan rumah dan keluarga.
Banjir permintaan tapi tetap hati-hati
“Dengan solusi yang terpadu ini, nasabah dapat memiliki rumah, ruko, apartemen atau kaveling tanah,” ujar Diah. Di sisi lain, masih menurut Diah, nasabah juga masih dapat memenuhi kebutuhan furniture, kendaraan, rekreasi, biaya pendidikan dan lainnya.
Lain lagi dengan strategi Bank Mandiri. Bank ini memilih untuk mengandalkan kantor cabangnya yang berjumlah 1.000 buah. “Mereka akan menjadi tool kami di sana,” ujar Omar.
Kendati antusias menghadapi meningkatnya permintaan, namun perbankan tampaknya juga masih lebih memperhatikan unsur kehati-hatian dalam menyalurkan KPR di luar Jawa. Tengok saja pendapat
Jahja. Menurut dia, meski permintaan KPR membanjir, perbankan perlu memperhatikan lemahnya sita jaminan apabila terjadi kredit macet. “Belum lagi kalau tidak laku, sangat susah menjualnya,”kata Jahja.
Omar juga sependapat dengan Jahja. Sebelum memasarkan satu produk KPR, Bank Mandiri biasanya harus memperhatikan berhasil atau tidaknya produk tersebut di satu tempat. “Artinya, harus berdasarkan pada pertimbangan prospek wilayah ke depan,” kata Omar.
Kendati banyak pertimbangan, selang kredit ke luar Jawa tentunya harus tetap mengalir kan Pak? Soalnya kalau tetap berkutat di Jawa, kapan saudara-saudara kita yang berdomisili di luar Jawa bisa memiliki rumah?
+++++
Bunga Layu, Produk Baru
Langkah Bank Indonesia (BI) yang terus menurunkan suku bunga acuan alias BI rate mulai terasa dampaknya. Banyak bank yang mulai menurunkan tingkat suku bunganya. Yang sudah mencuri start, salah satunya, adalah Bank Mandiri yang mulai melayukan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sejak Januari silam. Kini bunga KPR Mandiri sebesar 9,9% per tahun pertama. “Ini kami lakukan agar pembiayaan KPR Mandiri lebih agresif,” ujar Omar S. Anwar, Direktur Konsumer Bank Mandiri.
Bank Internasional Indonesia (BII) juga tak mau ketinggalan kereta. Menurut Rudy Hamdani, Direktur Konsumer BII sejak bulan lalu bunga KPR BII sudah turun dari 14% menjadi cuma 11%. “Penurunannya lumayan besar kan,” ujar Rudy setengah berpromosi.
Hal senada juga terlontar dari Diah Sulianto, General Manager Kredit Perumahan Bank BNI. Sejak akhir bulan lalu, suku bunga KPR BNI sudah layu dari 13,75 % menjadi 12,6% saja.
Di Bank Niaga, penurunan bunga KPR malah sudah berlangsung sejak awal Januari. Menurut Juanita A. Luthan, VP Produk KPR Bank Niaga, pihaknya menurunkan bunga KPR karena kondisi makroekonomi sudah semakin stabil. “Saat ini bunga yang berlaku cuma 12%, sebelumnya sekitar 14%,” kata Juanita.
Tentu saja, Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai biangnya penyalur KPR tak mau ketinggalan. Terhitung mulai Februari ini, BTN juga telah menurunkan bunganya 1,25%-1,75%. “Untuk kredit rumah sederhana sehat bersubsidi, bunga turun dari 16% menjadi 14,74%,” ujar Kodradi, Direktur Utama BTN.
Turun bunga bukanlah jurus satusatunya bank untuk memekarkan kredit KPR. Nasabah juga bisa menikmati banyak produk baru. Awal Februari lalu, Mandiri mengeluarkan Mandiri Griya dengan suku bunga 9,99 %. Namun, bunga ini hanya berlaku enam bulan pertama. Untuk bulan-bulan selanjutnya akan kembali merangkak ke angka 13,5%.
Mandiri menyediakan plafon kredit minimal Rp 25 juta hingga segede Rp 5 miliar. “Uang muka minimal 10%,” kata Omar. Sedang BII mengeluarkan KPR Express lima tahun dengan bunga tawaran bunga flat 12,5% selama 5 tahun.


