Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar mengenai Kota Kudus? Bisa jadi rokok kretek, soto kudus, dan jenang kudus langsung berebut muncul dalam ingatan. Namun, ketika sedang berada di kota kecil sekitar 55 kilometer arah timur Semarang ini, rugi rasanya kalau tidak mencicipi menu garang asem.
Istilah garang asem ini terdiri dari dua kata, yakni garang yang berarti pedas dan asem yang merupakan campuran rasa kecut dan manis. Biasanya, orang mengolah ayam untuk sajian garang asem. Tapi, ada pula garang asem yang dibikin dari daging sapi.
Nah, di Kudus ada kedai yang terkenal dengan garang asem ayamnya. Nama kedainya Rumah Makan Sari Rasa, milik H. Ri’fan. Inilah kedai pertama yang menjual garang asem di Kota Kretek. Lokasinya sekitar 600 meter dari pusat kota. Kalau melihat menu di situ, rumah makan yang berada di seberang Yayasan Jamaah Haji Kudus ini menyediakan deretan menu lain, seperti soto kudus, nasi rames, dan opor ayam. Tapi, garang asemlah yang merebut hati banyak orang.
Menurut Yully, anak pertama H. Ri’fan yang juga pengelola kedai ini, sebelum menyajikan menu garang asem, Sari Rasa tidaklah seramai sekarang. Bahkan, tak jarang kedai mereka sepi. Tentu saja, hal itu berbeda dengan sekarang, ketika pembeli menyerbu garang asem mereka.
Sari Rasa menempati lahan seluas 100 m2, tapi kedainya sendiri justru tak terlalu besar. Di dalamnya terdapat delapan meja dan kursi panjang. Kapasitas kedainya paling cuma muat 60 orang.
Meski kebanyakan pengunjung langsung datang dan membeli, tak jarang mereka harus memesan dulu melalui telepon. Pasalnya, garang asem Sari Rasa yang baru siap dihidangkan setelah pukul 10.00 ini kerap sudah tandas sebelum magrib. Padahal, Sari Rasa buka sampai pukul 20.00.
Sedapnya aroma daun muda
Garang asem identik dengan daun pisang dan belimbing wuluh (belimbing sayur). Mula-mula, si juru masak memborehi ayam yang sudah dipotong-potong dengan bumbu dapur, lantas mengimbuhi pakai belimbing wuluh dan tomat. Selanjutnya, ia mengukus ayam dalam bungkusan daun tersebut selama satu sampai satu setengah jam. Ketika matang, merebaklah aroma daun pisang yang harum. Makanya, menurut Yully, Sari Rasa berusaha memilih daun pisang yang masih muda. “Daun muda bisa lebih beraroma,” tuturnya.
Yuli menuturkan, garang asem ini lebih lezat jika kita makan hangat-hangat kuku. Karena itulah, selepas matang, kukusan garam asem dipindahkan ke kedai. Garang asem akan tetap nongkrong di atas kompor dengan api kecil. “Memang lebih enak kalau makannya pas siang hari,” ujarnya. Paduan pedas dan asam akan menyegarkan di tengah terik sinar matahari.
Kedai Sari Rasa menawarkan dua macam olahan garang asem, yakni daging ayam dan jeroan ayam. Namun, garang asem daging ayamlah yang banyak diminta orang. “Katanya, daging lebih terasa rasanya asem manisnya,” kata Yully.
Saban hari Yully membuat sekitar 700 hingga 800 bungkus garang asem. Untuk itu, menurut Yully, ia membutuhkan 200 ekor ayam. Ketika akhir pekan dan musim libur, kebutuhan ayam mencapai 250 ekor sehari.
Pelanggan Sari Rasa bukan hanya penghuni Kudus, melainkan juga orang dari luar kota. Uniknya, Yully bilang, ayahnya mendapat ide berjualan garang asem setelah mencicipi hidangan serupa di Rumah Makan Raharjo, Purwodadi. Untuk mendapatkan rasa garang asem yang seperti sekarang, ibunya mengotak-atik resep selama setahun. Nah, garang asem Sari Rasa ini agak berbeda karena menggunakan santan. “Lain tempat, kan, resepnya lain,” kilah Yully.
Supaya lebih sip, tutur Yully, Sari Rasa menggunakan ayam kampung. Itu pun yang usianya sembilan bulan. “Supaya dagingnya empuk dan gurih,” ungkap Yully yang menjual garang asem dengan harga Rp 13.000 sebungkus.
+++++
24 Jam di Kota Kretek
Kalau Jogja terkenal dengan gudegnya, Palembang dengan pempeknya, tak bisa dipungkiri jika Kudus kondang dengan sotonya. Namun, perut bisa menolak keras-keras. Selain soto, jenang, dan garang asem, Kudus punya sederet makanan yang sayang dilewatkan.
Wisata kuliner Kudus bisa dimulai pada pukul 05.00 dengan sarapan lenthok. Ini adalah semacam ketupat dengan sayur santan serta tahu. Harganya Rp 2.500 per porsi. Ada ratusan pedagang yang menjual makanan ini. Meski tersebar seantero Kudus, pusat lenthok ada di daerah Kecamatan Tanjung, tak jauh dari Terminal Kudus ke arah Purwodadi. Makanya lazim disebut lenthok tanjung.
Siang hari, mulai pukul 11.00, makanan yang layak disantap adalah soto kudus. Jumlahnya pun puluhan. Awalnya yang populer adalah Soto Pak Denuh. Beberapa tahun silam, warung soto kudus muncul bak jamur di musim hujan. Ada Soto Bagoeng dan Soto Gareng. Harga per porsi berkisar Rp 4.000 hingga Rp 5.000.
Menjelang malam hari hingga dini hari, puluhan warung kakilima akan bermunculan. Dengan gerobak dorong dan diterangi lampu petromaks, warung berderet-deret sepanjang jalan. Lokasi utamanya di Jalan Muria Kudus dan Pasar Kliwon. Menu utama yang tersedia adalah lontong tahu campur goreng. Jangan harap bisa duduk nyaman layaknya restoran, karena rata-rata pedagangnya menyediakan tikar untuk lesehan.
+++++
Tak Hoki di Kota Lain
H. Ri’fan, pemilik RM Sari Rasa, sebenarnya tidak asing dengan bisnis makanan. Dimulai ketika ibunya, Sumiyah, mendirikan warung makan. Semua anak Sumiyah lantas melakukan hal yang sama. Meski Sari Rasa ini sudah berdiri sejak 1976 silam, tapi menu garang asem baru muncul tahun 1986.
Sari Rasa ini memiliki dua cabang, yang berdiri sejak empat tahun silam. Yakni, di Klaling-Pati dan Karanganyar-Demak. Dibandingkan dengan kedai pusatnya, kedua kedai tersebut jauh lebih besar. Sayang, setahun silam keduanya sudah ditutup. “Selain pengunjung kurang, pengelola tetapnya juga tidak ada,” kata Yully, anak pertama sekaligus pengelola Sari Rasa, Kudus.
RM Sari Rasa
Jl. Agil Kusumadja 20, Jati Kulon, Kudus
Telp. (0291) 442218


